Sabtu, Desember 13, 2008

Syeikh Al-Azhar lagi.......

Jumat, Desember 12, 2008

SYEIKH AL-AZHAR MELUKAI PERSAAN UMAT ISLAM


IKHWANUL MUSLIMIN: GRAND SYEIKH AL-AZHAR MELUKAI PERASAAN MESIR DENGAN BERSALAMAN DENGAN PERES

Kelompok parlemen dari kubu Ikhwan Muslimin di Mesir mengingkari (istankara) di Mesir Kamis, 27 nopember 2008 dimana Syeikh Al-Azhar Imam Akbar syeikh Prof. Dr. Muhammad Sayid tantawi bersalaman dengan Presiden Israel, Simon Peres pada saat pertemuan yang dilakukan di Dewan Umum PBB bulan ini (Nopember) untuk mendiskusikan mengenai dialog agama. Wakil Ketua Umum kelompok Parlemen Ikhwan Muslimin bahwa kelompok tersebutmelihat bahwa Syeikh Al-Azhar dan Imam Akbar menyalami Simon Peres dengan kedua tangan beliau menyakiti perasaan Mesir, rakyat Mesir dan juga Al-Azhar Asy-Syarif.

Mereka menjelaskan dalam keterangan tersebut bahwa salaman tersebut terjadi pada saat israel melakukan blokade terhadap rakyat Palestina di Jalur Gaza. Salaman tersebut juga disertai dengan senyuman dan wajah sumringah yang menyebabkan mayoritas rakyat Mesir terkesima dan bengong. Mereka menuntut Syeikh Al-Azhar tersebut untuk meminta kepada umat Islam mengenai salaman tersebut. Perbuatan tersebut ditolak dan tidak layak dengan perjuangan rakyat Palestina yang selalu mendapat penindasan yang tidak berperikemanusiaan oleh Israel.

(Koran Al-Arab Int., London, 28 nopember 2008).

Minggu, November 09, 2008

KEMANAKAH AURA RUHANIYAH ITU ???

Dalam kesempatan tgl 30 Oktober 2008 saya berkesempatan mengunjungi kawan-kawan di kampus UPM Jl. Gatot Subroto setelah sekitar enam bulan saya cuti dan meninggalkan kampus. Saya datangi semua jurusan yang ada di lingkungan UPM dan juga gedung rektorat. Pertama yang saya sambangi adalah ruangan jurusan Falsafah dan Agama, dimana saya pernah memimpin jurusan tersebut satu periode untuk menemui ketua Jurusan saat ini, Sdr. Suratno, MA dan dosen-dosen lain. Di tangga ke ruangan saya juga berjumpa Sdr. Dr. Lufhfi Assyaukanie, MA sahabat dan adik kelas saya di pesantren Attaqwa, Bekasi. Dari situ saya ke Jurusan Ikom, TI, Psikologi, HI dll, kemudian ke ruang rektorat.

Dalam kunjungan singkat tersebut saya berjumpa beberapa kawan baik dosen, maupun staff dan juga mahasiswa, walau sebagian dosen ada yang sedang mengajar. Juga saya jumpai para satpam, OB, kepegawaian, dsb. Selama kunjungan singkat saya tersebut, ada rasa – bagi saya – tidak terasa aura ruhaniyah, yang selama ini menjadi ciri khas Paramadina dengan tokohnya Cak Nur, seorang Sufi Besar Modern. Walaupun CN tidak suka dikultuskan dengan pemberian atribut yang berkenaan dengan dirinya, seperti misalnya yang dilakukan oleh Sdr. Sukandi melalui kumpulan artikel yang diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul, ”Tarekat Nurcholisiyah”, CN tidak menyetujui judul tersebut, dan pada cetakan berikutnya diubah judulnya. Begitu juga dengan penempelan atribut lainnya. Tapi bagi saya yang sudah mengenal CN sejak permulaan berdirinya UPM (waktu itu masih Universitas ParamadinaMulya) dan bahkan mengikuti kuliah beliau di Pasca Sarjana Falsafah dan Agama (S2) dan juga umrah bareng beliau dan sedikit banyak tahu kehidupan beliau dan juga banyak tahu kehidupan Kiayi-Kiayi di Jakarta, bahwa CN adalah seorang Sufi Besar. Dari sisi kehidupan beliau dan juga pemikirannya mencerminkn hal ini. Dalam kehidupan sehari-hari beliau sangat bersahaja, begitu tempat tinggal dsb. Berbeda dengan Kiayi di Jakarta (sengaja saya tidak mau menyebutkan nama mereka) sangat berbeda. Belum lagi komitmen moral CN, tidak akan bisa dibandingkan dengan Kiayi tersebut. Jadi CN sebenarnya adalah ’manusia dan barang langka’ dalam panutan (qudwah) seiramanya antara ucapan dengan perbuatan. Inilah moralitas. Dan moralitas ini yang tidak dimiliki oleh banyak para Kiayi dan Ustaz di Jakarta. Bahkan mereka banyak juga yang memalsukan gelar, terutama dari Timur Tengah, baik Lc maupun MA, padahal sebenarnya mereka tidak atau belum mendapatkan gelar tersebut. Lagi-lagi moral bung...

Kembali ke masalah aura spiritual kampus UPM tadi pasca CN, saya merasakan telah hilang dari kampus. Hal ini mungkin tidak ada perbedaan bagi orang lain, atau bagi kalangan yang tidak mengenal CN atau juga bagi para staf dan dosen di luar core disiplin keilmuwan CN. Saya juga mendapat info yang membenarkan pandangan saya terebut dari kawan-kawan lama yang selama ini akrab dengan CN dan kebanyakan mereka sudah tidak berada di lingkungan UPM lagi. Walau secara manajerial UPM saat ini sudah mencapai kemajuan tidak dapat dipungkiri. Keberhasilan yang dicapai oleh para pimpinan UPM saat ini, masih tidak ada ’artinya’ dimata CN tanpa pengakuan terhadap pendahulu para pendiri UPM termasuk CN di dalamnya. CN dalam setiap kesempatan di UPM selalu mengutip pepatah bahasa Arab yang sering diulang-ulang dan juga saya ulang ketika terjadi pergantian pimpinan dari Prof. Dr. Ir. Marsudi W. Kisworo kepada penggantinya M. Sohibul Iman, Phd. Pepatah tersebud adalah, ’al-Fadlu li al-Mubtadi wa in Ahsana al-Muqtadi’. Maknanya kira-kira, ‘ Yang patut diacungkan jempol dan diapresiasi adalah para pendiri (orang yang memulai) walaupun penerusnya labih baik).

Ungkapan CN tadi menjadi ‘wasiat’ beliau sebetulnya bagi penerus CN baik pimpinan, dosen dan seluruh sivitas akademika UPM. Meninggalkan hakikat CN dari UPM adalah sebuah kezaliman dan kezaliman adalah perlakuan tingkat tinggi amoral dan karenanya menjadi sebuah dosa, yang sering diungkapkan CN menjadi zulmani.

Wallahu A’lam apakah yang saya rasakan itu sebagai out-put dari apa yang ungkapan, saya juga tidak tahu. Barangkali para Assabiqunal Awwalun UPM bisa menjelaskan? Wallahu A’lam bisshawab.

Jumat, September 26, 2008

PUASA MENAMBAH KESUBURAN PRIA DAN WANITA

PUASA MENAMBAH KESUBURAN PRIA DAN WANITA

Penelitian yang baru-baru ini dilansir oleh Fakultas Kedokteran King Abdul Aziz University, Saudi Arabia menyebutkan bahwa puasa dapat menambah tingkat kesuburan pria dan wanita. Pada saat puasa terjadi perubahan aktif pada diri seseorang secara normal dimana fungsi hormon testetron pada saat itu menjadi lebih baik. Begitu juga jumlah sperma semakin bertambah pada saat berpuasa. Para peneliti tersebut membuat catatan khusus bahwa tingkat kehamilan terjadi pada bulan syawal, sebagaimana juga mereka mencatat bahwa sperma yang hidup lebih banyak dari biasanya pada bulan Ramadhan.

Penelitian tersebut mengambil sample sebanyak 21 orang, 8 orang kondisi sehat dan normal, 10 mengalami kekurangsuburan dan 3 orang lagi mandul. Mereka semua diambil sample darah dan sperma pada bulan Sya’ban, Ramadhan dan Syawal untuk mengadakan tes laboratorium terhadap kualitas sperma mereka dan mengecek pengaruh puasa terhadap tingkat kesuburan mereka.

Penelitian lain yang dilakukan di Saudi juga mengenai tingkat kesuburan wanita pada bulan Ramadhan dan pengaruh puasa terhadap kesuburan wanita, dimana hasilnya puasa jua meningkatkan kesuburan wanita, dimana banyak para istri mendapatkan kahamilan pada bulan syawal (pasca Ramadhan).

(Sumber, Koran Al-Arab, London, 23 September 2008).

FATWA MATI BAGI PARANORMAL CS

FATWA MATI BAGI PARANORMAL DKK

Syeikh Saleh Al-Fawzan, salah seorang anggota Majlis Qadha A’la Saudi Arabia meminta untuk menghukum mati para penyebar kemusyrikan (program paranormal, sinetron alam ghaib, dsb) untuk dihukum mati. Dia mengatakan bahwa mereka adalah penyebar kemusyrikan dan orang yang menyebarkan kemusyrikan tersebut dihukum mati dalam Islam dengan menggunakan pedang (penggal leher) dan jenazahnya tidak boleh disalatkan.

Pandangan syeikh Fawzan ini sebagai komentar atas pendapat (fatwa) Syeikh Saleh bin Muhammad Al-Lahidan, Ketua Majlis Qadha A’la Saudi Arabia yang membolehkan hukuman mati bagi pemilik TV yang menyebearkan kesesatan aqidah (kemusyrikan) dan obral seks.

Dalam sebuah komentar yag disiarkan oleh Kantor Berita Saudi tgl. 14 September (2008/14 Ramadhan 1429), Syeikh al-Lahidan mengatakan bahwa ada yang mebelokkan fatwanya yang meminta dan mgajak dengan pemenggalan kepala pemilik TV dan Channel Fadhaiyat dengan mengatakan bahwasanya ia mulia fatwa tersebut dengan memberikan nasehat mereka untuk bertaqwa dan takut kepada Allah dan jangan meneruskan program kemusyrikan lagi. Dia mengatakan bahwa saya ingatkan mereka untuk takut pada Allah. Dan apabila program tersebut dipercaya dan didikuti oleh para pemirsa maka dia akan memikul dan menanggung dosanya karena mereka telah mengajak kepada ajakan dosa’. Fatwa Syeikh Lahidan ini membuat keresahan bagi pemilik TV channel baik swasta maupun pemerintah.

Syeikh Lahidan salah seorang tokoh agama berpengaruh di Saudi Arabia menjawab pertanyaan melalui program radio setiap hari pada hari Rabu (10/9/2008) tentang pemilik TV yang menyiarkan program ’yang memalukan’ khususnya di bulan ramadhan, dia mengatakan bahwa ’orang yang mengajak kepada ’fitan’ (fitnah dan kesesatan akidah) dan bisa mencegahnya (dengan menyetop program tersebut) tapi dia tidak mau, maka halal darahnya. Karena para pengajak dan penyeru kemaksiatan dan kesesatan dihukum mati secara syara’. Allah swt berfirman, ’aw fasadin fi al-ardh’, maka seseorang dihukum mati dengan sebab karena membunuh jiwa yang lain, atau membuat kerusakan di muka bumi atau membuat kerusakan dan kesesatan akidah, atau kerusakan akhlak dan moral, dan para penyeru tersebut termasuk kategori orang yang melakukan ’fasad’ sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an.

Fatwa Syeikh Lahidan menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam fatwanya adalah semua Channel TV yang menyebarluaskan program sihir, paranormal, ramalan bintang, tarot, fengshui, dsb, yang disiarkan sehingga menyebabkan kerusakan dan kesesatan akidah dan syirik kepada Allah, termasuk program kekerasan dan obral seks.

Fatwa tersebut mendapat tanggapan beragam, seperti dikemukakan oleh Abdul Muhsin Al-Obaikan, seorang pejabat Deprtemen Kehakiman dengan bahwa fatwa tersebut memberikan justifikasi bagi kekerasan dan teror dengand alih fatwa tersebut, sebagaimana mereka juga berjihad di Irak dengan dalih fatwa tersebut.

(Koran Al-Arab, terbit di London, 15 September 2008)

FATWA MATI BAGI PARANORMAL CS

FATWA MATI BAGI PARANORMAL DKK

Syeikh Saleh Al-Fawzan, salah seorang anggota Majlis Qadha A’la Saudi Arabia meminta untuk menghukum mati para penyebar kemusyrikan (program paranormal, sinetron alam ghaib, dsb) untuk dihukum mati. Dia mengatakan bahwa mereka adalah penyebar kemusyrikan dan orang yang menyebarkan kemusyrikan tersebut dihukum mati dalam Islam dengan menggunakan pedang (penggal leher) dan jenazahnya tidak boleh disalatkan.

Pandangan syeikh Fawzan ini sebagai komentar atas pendapat (fatwa) Syeikh Saleh bin Muhammad Al-Lahidan, Ketua Majlis Qadha A’la Saudi Arabia yang membolehkan hukuman mati bagi pemilik TV yang menyebearkan kesesatan aqidah (kemusyrikan) dan obral seks.

Dalam sebuah komentar yag disiarkan oleh Kantor Berita Saudi tgl. 14 September (2008/14 Ramadhan 1429), Syeikh al-Lahidan mengatakan bahwa ada yang mebelokkan fatwanya yang meminta dan mgajak dengan pemenggalan kepala pemilik TV dan Channel Fadhaiyat dengan mengatakan bahwasanya ia mulia fatwa tersebut dengan memberikan nasehat mereka untuk bertaqwa dan takut kepada Allah dan jangan meneruskan program kemusyrikan lagi. Dia mengatakan bahwa saya ingatkan mereka untuk takut pada Allah. Dan apabila program tersebut dipercaya dan didikuti oleh para pemirsa maka dia akan memikul dan menanggung dosanya karena mereka telah mengajak kepada ajakan dosa’. Fatwa Syeikh Lahidan ini membuat keresahan bagi pemilik TV channel baik swasta maupun pemerintah.

Syeikh Lahidan salah seorang tokoh agama berpengaruh di Saudi Arabia menjawab pertanyaan melalui program radio setiap hari pada hari Rabu (10/9/2008) tentang pemilik TV yang menyiarkan program ’yang memalukan’ khususnya di bulan ramadhan, dia mengatakan bahwa ’orang yang mengajak kepada ’fitan’ (fitnah dan kesesatan akidah) dan bisa mencegahnya (dengan menyetop program tersebut) tapi dia tidak mau, maka halal darahnya. Karena para pengajak dan penyeru kemaksiatan dan kesesatan dihukum mati secara syara’. Allah swt berfirman, ’aw fasadin fi al-ardh’, maka seseorang dihukum mati dengan sebab karena membunuh jiwa yang lain, atau membuat kerusakan di muka bumi atau membuat kerusakan dan kesesatan akidah, atau kerusakan akhlak dan moral, dan para penyeru tersebut termasuk kategori orang yang melakukan ’fasad’ sebagaimana difirmankan dalam Al-Qur’an.

Fatwa Syeikh Lahidan menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam fatwanya adalah semua Channel TV yang menyebarluaskan program sihir, paranormal, ramalan bintang, tarot, fengshui, dsb, yang disiarkan sehingga menyebabkan kerusakan dan kesesatan akidah dan syirik kepada Allah, termasuk program kekerasan dan obral seks.

Fatwa tersebut mendapat tanggapan beragam, seperti dikemukakan oleh Abdul Muhsin Al-Obaikan, seorang pejabat Deprtemen Kehakiman dengan bahwa fatwa tersebut memberikan justifikasi bagi kekerasan dan teror dengand alih fatwa tersebut, sebagaimana mereka juga berjihad di Irak dengan dalih fatwa tersebut.

(Koran Al-Arab, terbit di London, 15 September 2008)

Rabu, September 17, 2008

77 TAHUN SYAHID OMAR AL-MUKHTA

PERINGATAN KE-77 SYAHID SYUHADA OMAR MUKHTAR

Tepat pada hari ini, 16 September (Al-Fateh) 2008, 77 tahun lalu, 16 September 1931 Omar Mukhtar, tokoh pejuang Libya enjadi syuhada di tiang gantungan penjajah Italia. Komite Rakyat Umum (General People’s Committee) Libya mengeluarkan keputusan No. 222 tahun 1376 WR (2008) bahwa hari Selasa, tanggal 16 September 2008 pada hari ini memerintahkan sebagai hari berkabung di seluruh Libya. Berdasarkan keputusan ini rakyat Libya diminta untuk mengheningkan cipta pada pertengahan siang hari selama 5 menit mengenang jasa tokoh syuhada tersebut. Hal ini berlaku disemua kegiatan dan aktifitas, seperti rumah, jalan raya, airport, pelabuhan, perkantoran, pusat perbelanjaan dsb.

Omar Mukhtar digantung di tiang gantungan oleh penjajah Italia di kota Saluq tepat 77 tahun pada peperangan terakhir antara Libya dan Italia. Dia dikenang sebagai syahid syuhada yang terakhir. Sedangkan yang menjadi syahid pertama pada peperangan tahun 1911 adalah Abdul Salam Hameed Abu Minyar Al-Gaddafi, dari clan pemimpin Libya sekarang, Muammar Muhamed Abu Minyar Gaddafi.

Omar Mukhtar nama lengkapnya adalah Omar al-Mukhtar Muhammad Farhat Abridan Emuhammad Moumin bouhadimah Abdullah Elm Manaf bin Muhsin bin Hasan bin Ikrimah bin Al-Watah bin Sufyan bin Khalid bin Al-Jusyafi bin Thahir bin Al-Arqa’ bin Sa’id bin Uwaidah bin Al-Jarah bin Khafi (dikenal juga Al-Urwah) bin Hisyam bin Manaf al-Kabir dari kabilah Quraisy di Makkah.

Dilahirkan pada tahun 1858 di desa Janzour al-Syarqiyah, daerah bir Al-Asyhab, Tubruq di Badiyah Al-Buthnan, sebelah timur Burgah. Dia menjadi yatim ketika ayah, Al-Mukhtar meninggal dunia dalam perjalanan menuju Makkah bersama isterinya Aisyah. Omar kecil mendapat anugerah Allah talenta dengan suara yang bagus dan kepemimpinan yang dapat menarik simpati massa.

Omar Mukhtar terlibat dalam perang kemerdekaan dan jihad sejak awal, setapak demi setapak ketika Italia mengumumkan perang kepada Turki pada tgl 29 september 1911. dimulai perang di daerah pesisir Libya seperti kota-kota Darnah, Tripoli, Tubruq, Benghazi dan Al-Khams. Pada saat itu Omar Mukhtar menetap di Jalu setelah kembali dari Kufrah (Kota yang belum lama tempat landing pesawat Sudan yang dibajak). Ketika mengetahui peperangan tersebut ia bergegas ke Pusat Konsentrasi Massa Mujahidin dimana ia ikut andil dalam pembentukan dan Tanzim Jihad dan Perlawanan. Perlawanan sengait terjadi, pasca mundurnya Turki dari Libya tahun 1912, yaitu peperangan hari Jum’at di Darnah pada tgl. 16 Mei 1913 dimana tentara Italia terbunuh 10 orang komandan, 40 tentara, 400 orang cedera dan hilang dan menyebabkan tentara Italia mundur dan meninggalkan peralatan perang mereka. Dia juga ikut perang dalam peperangan Bou Syamal di Ain Marah pada 6 Oktober 1913 dan beberapa peperangan lainnya.

Pada tahun januari dan Februari 1930 Italia berhasil menduduki Murzuk dan Ghat, Selatan libya berbatasan dengan Al-Jazair, kemudia menyerang berbagai basis mujahidn di berbagai wilayah. Pada 26 Agustus 1930 Italia menjatuhkan bom seberat setengah ton di kota Juf dan Taj. Pada Nopembernya Panglima Italia di Libya telah menyetujui penyerangan dari Agdabia, Jalu ke Bir Zigen dan ke Juf. Pada 28 Januari 1931 Kufrah dapat dikuasai. Dengan jatuhnya Kufrah tersebut mempengaruhi gerakan jihad dan perlawanan pejuang Libya. Pada perang As-Saniyah yang terjadi pada bulan Oktober 1930 kaca mata Omar Mukhtar jatuh dan tertinggal. Ketika ditemukan oleh salah seorang tentara Italia dia berikan kepada Komandan Italia. Komandan tersebut berkata, ’sekarang kita mendapatkan kacamatanya, nanti kita dapatkan lehernya’. Pada 11 september 1931 ketika Omar Mukhtar meninjau dan memantau wilayah Salnathah dengan beberapa pasukan berkudanya, pasukan Italia mengetahui hal tersebut dan mengirim pasukan untuk mengepung pasukan berkuda Omar Mukhtar, maka terjadi pertempuran di Wadi (Oase) Bou Thaqah. Karena pasukan tentara Italia lebih besar dan sudah terkepung, Omar Mukhtar memerintahkan pasukannya untuk menyebar dan menyelamatkan diri. Tapi kuda yang ditungganginya tertembak lawan dan dia berhasil ditangkap. Maka selanjutnya dia dikirim ke Musa Sousah dan kemudian dipindahkan ke Benghazi dimana dia ditahan di penjara di daerah Sidi Akhribis. Pada tgl 14 September 1931 Komandan Tentara Italia tiba di Benghazi dan esoknya, 15 september 1931 Omar mukhtar akan disidang. Dalam persidangan terjadi dialog antara Panglima dengan Syeikh Omar Mukhtar.

’Kenapa anda memerangi Italia’
’Demi agama dan tanah air saya’
‘Bagaimana keyakinanmu untuk sampai kesitu’
‘Tidak ada, kecuali mengusir kamu. Karena kalian adalah penjajah. Sedangkan dalam hal ini perang diwajibkan kepada kami dan kemenangan hanya dari Tuhan’.
’Apa yang membuat kamu punya kekuasaan dan massa. Berapa lama kamu dapat memerintahkan pasukan kamu untuk tunduk kepada kami dan menyerahkan senjata mereka’
’Tidak mungkin saya melakukan hal itu. Kami pejuang yang sudah berniat dan bersumpah bahwa semua kami akan mati satu persatu. Kami tidak akan menyerah atau melemparkan senjata kami’.

Maka Omar Mukhtar disidang dengan persidangan dagelan pada sore hari tgl 15 September 1931 dan dihukum dengan hukuman mati di tiang gantungan. Mendengar hukuman tersebut, Omar Mukhtar berkata, ’sesungguhnya keputusan kecuali oleh Allah. Bukan keputusan yang kalian lakukan. Inna Lillahi wainna ilayhi rajiun’.

Pada hari Rabu pagi, 16 September 1931 (1 Jumadil Awwal 1350) semua persiapan pelaksaan hukuman gantung sudah disipkan dan dipanggil 20.000 keluarga dan semua tahanan politik dari berbagai wilayah untuk melihat proses penggantungan pimpinan mereka. Syeikh Omar Mukhtar dibawa dengan tangan diborgol, tapi wajahnya senyum, rela dengan qadha dan qadar tuhan. Tepat pada jam 09.00 pagi syeikh diserahkan kepada algojo. Dengan wajah tersenyum karena bahagia dengan kesyahidannya. Dengan tenang ketika tambang gantungan sudah melilitdi lehernya dengan tenanga beliau mengucapkan azan shalat dan membaca ayat suci al-Qur’an ayat, Ya Ayyathunnafsul Muthmainnah Irji’i ila Rabbiki Radhiyatan Mardhiyyah, sebagai akhir dari hayat di dunia. Sekian detik kemudian ruh pejuang dan mujahid tersebut telah diterima kembali oleh Sang Penciptanya, Allah swt. Penguasa Italia mengancam bagi siapa saja yang menampakkan kesedihan dengan dihukumnya dan digantungnya Omar Mukhtar akan disiksa oleh pasukan penjajah. Banyak diantara warga yang sedih dan rela disiksa.

Kalimat terakhir yang diucapkan oleh syahid syuhada Omar Mukhtar adalah, ’Kami tidak akan menyerah. Kami menang atau mati. Ini bukan akhir dari perjuangan kami. Akan tetapi generasi berikutnya akan mengikuti jejak kami. Sedangkan saya, sesungguhnya umur saya lebih panjang dari umur algojo saya.

Senin, September 15, 2008

TARAWEH DI TRIPOLI, LIBYA


Hari ini, Kamis malam Jum’at, 11 september 2008 (12 Ramadhan 1376 WR/1429 H0 saya melaksanakan salat taraweh di Kulliyah Dakwah Islamiyah, Tripoli, Libya. Kulliyah Dakwah ini merupakan kampus dibawah World Islamic Call society (WICS), sebuah organisasi dakwah di Libya yang banyak melakukan pemberian bantuan ke dunia Islam, terutama benua Afrika.

Memang sejak kedatangan saya ke Tripoli pada akhir April 2008 lalu, saya ingin tahu suasana keagamaan di Libya. Suasana tersebut, misalnya bagaimana puasa, taraweh maupun Idul fitri di Libya. Saya rencanakan awal tahun keberadaan saya di Tripoli untuk banyak tahu dan melakukan kegiatan keagamaan di beberapa masjid di kawasan tersebut. Hal ini untuk membandingkan dengan kegiatan keagamaan di Mesir, misalnya dimana saya ketika menjadi mahasiswa di Universitas Al-Azhar pada tahun 1982-1988, begitu juga di Pakistan 1988-1990/1991 dan ketika bekerja di Jeddah (KJRI, Bidang Urusan Haji) 1991-1998.

Ketika saya di Mesir, suasana bulan Ramadhan hidup meriah dengan kegiatan keagamaan dan kebudayaan. Di sekitar kampus Al-Azhar, Darrasah dan Husein banyak terdapat pameran buku-buku selama 1 bulan penuh, begitu para jamaah Masyaikh Turuq sufiyah melakukan kegiatan keagamaan sepanjang jalan Al-Qaid Al-jawhar, di depan kampus Al-azhar menggelar tenda melakukan kegiatan keagamaan. Pokoknya meriah. Suasana taraweh di masjid pun tidak kalah meriah. Rata-rata masjid melaksanakan salat taraweh dengan baik yang 20 rakaat (ini mayoritas) dengan 1 juz setiap malam.

Sedangkan di Islamabad suasana taraweh lebih top lagi. Di Masjid King Faisal, kampus utama International Islamic Universiry Islamabad (IIUI), pada malam ke 26 sudah mengkhatamkan 1 al-Qur’an. Kemudian malam ke-27, 28 dan 29 diadalak salat taraweh dengan khatam 1 Al-Qur’an lagi. Jadi satu malam 10 juz untuk 20 rakaat. Saya mengikuti salat ini dari habis Isya sampai jam 3 pagi dan langsung sahur. Setiap malam terdapat 10 orang imam, dimana mereka berganti mengimami salat untuk satu salam saja. Hal ini namanya ‘Shabinah’. Peristiwa ini diliput secara langsung oleh TV Pakistan.

Di Kulliyah Dakwah Islamiyah masjid cukup luas tapi jamaahnya Cuma 2 baris, karena kebanyakan mahasiswa yang gak beda dengan suasana tarweh di Indonesia, awalnya penuh dan tengahnya bolong, dan akhirnya ramai lagi. Malam itu taraweh diimami oleh mahasiswa dari Afrika yang diseleksi oleh pihak Kulliyah. Bacaannya bagus, bahkan ada yang membaca pola bacaan (qira’at) Imam Qalun, bacaan yang popular di Libya walau masih banyak juga yang membaca qiraat Imam Hafas. Qiraat Imam Hafas merupakan bacaan popular di kawasan dunia Islam Asia (Timur), sedangkan di Maghreb Araby bacaan terkenal adalah Imam Warasy.

Jumlah rakaat taraweh di Kulliyah Dakwah Islamiyah sebanyak 10 rakaat, plus 3 witir. Saya tanyakan kepada mahasiswa kenapa? Beragam jawabannya. Ada yang mengatakan ada riwayat nabi melaksanakan jumlah itu. Ada jg yang mengatakan bahwa itu dianggap termasuk ba’diyah isya, karena memang tidak ada jedah untuk shalat ba’diyah isya, karena langsung diadakan salat taraweh.

Minggu, September 14, 2008

ABDUL HALIM ABU GHAZALAH

AIR MARSHAL ABDUL HALIM ABU GHAZALAH FIZIMMATILLAH (Februari 1930-6 September 2008/6 Ramadhan 1429 H)

Mesir kehilangan putera terbaiknya. Air Marshal (al-Mushir) Abdul Halim Abu Ghazalah, yang pernah menjadi Menteri Pertahanan dan Peroduksi Peperangan pada awal era presiden Hosni Mubarak. Gelar air marshal diperolehnya dalam perang 1973 antara Mesir dengan Israel yang terjadi pada bulan suci Ramadhan dimana tentara Mesir dapat memukul benteng Israel ‘Khat Barlev’ dimana Israel sesumbar bahwa beneteng tersebut tidak dapat dilakahkan. Tapi Mesir membuktikan dengan menghamtamnya pada saat matahari meninggi dari sisi Barat Terusan Suez. Kekalahan Israel ini kemudian Mesir dapat merebut kembali Gurun Sinai yang dikuasai Israel sejak kekalahan Mesir pada perang 1967 dimasa pimpinan presiden Gamal Abdul Nasser yang dikenal dengan perang 7 hari. Karena dalam 7 hari tersebut Mesir dapat ditaklukkan oleh cewek, karena Israel saat itu dipimpin oleh PM Golda Meir.

Air marshal Abdul Halim Abu Ghazalah merupakan ’saingan’ presiden Mubarak karena popularitas abdu Ghazalah yang sangat kuat di masyarakat Mesir. Abu Ghazalah merupakan opsir bebas, tentara Mesir yang menggulingkan raja Faruk dari Mesir, yang merupakan raja terakhir keturunan Muhammad Ali Pasha dari Turki (Usmani/Ottoman) pada tahun 1952 bersama Gamal abdul Nasser dan presiden pertama Mesir, ????. Abu Ghazalah menjabat sebagai Menteri Pertahanan dan Produksi Alat Peperangan (Wazir al-Difa’ wa Intaj al-harby) pada tahun 1981-1989 diawal masa pemerintahan Mubarak selepas pembunuhan presiden Anwar Sadat pada Oktober 1981. (Pada akhir Desember 1981 tersebut saya mengnjakkan kaki pertama kali di bumi Kinanah, Cairo untuk belajar di old campus universitas Al-Azhar, Darrasah, Husein, Cairo). Abu Ghazalah merupakan tokoh terakhir Mesir yang paling ikhlas pengabdiannya kepada Mesir dan pada masanya mesir memperbaharui peralatan peperngan mereka bahkan melakukan pengembangan rudal mesir yang membuat AS cemas, dimana AS pada Juni 1988 menangkap Abdul Kadir hilmy, ahli rudal Amerika dengan tuduhan anak didik abu Ghazalah untuk mendapatkan teknologi program rudal Mesir Badar 2000. Penangkapan ini terjadi di California, AS. Sejak 1989 Abu Ghazalah menjadi penasehat Presiden Mubarak hingga ia mengudurkan diri pada tahun 1993 dan sejak itu dia meninggalkna dunia politik dan militer setelah santer bahwa dialah satu-satunya tokoh yang akan menjadi wakil presiden. Abu Ghazalah merupakan tokoh yang mendapatkan hati di benak rakyat Mesir dan politikus dan pemimpin partai di Mesir. Menurut kalangan politikus, Presiden Mubarak sejak tahun 80an ingin menyingkan Abu Ghazalah dari circle pengambil keputusan sehingga tidak mengganggu dan mengkhawatirkan penguasa.

Abu Ghazalah dilahirkan di desa Zuhur al-Umara (Bunga para Pangeran), Distrik Daqhaliyah, Propinsi Buhairah pada bulan Februari 1930. Dia masuk Fakultas militer (Al-Harbiyah)dan lulus pada tahun 1949 dalam usia 19 tahun. Pada masa menjadi mahsiswa di Fakultas militer dia terlibat dalam perang Palestina, revolusi opsir bebas tahun 1952, dan perang 1973. Abu Ghazalah merupakan seorang ahli strategi perang dan menulis buku-buku sekitar masalah peperangan. Diantara buku beliau yang menjadi bacaan saya adalah kajiannya mengenai strategi perang Rasulullah saw. Beberapa penghargaan diperoleh Abu Ghazalah selama mengabdi di dunia militer. Rahimahullah Abu Ghzalah asallahu an yataghmmada fasiha jannatihi. Amin

CATATAN KUNJUNGAN RICE KE LIBYA

CATATAN KUNJUNGAN RICE KE LIBYA

Kunjungan historis yang dilakukan oleh Menlu AS Condeleezza Rice ke Libya pada hari Jum’at, tgl. 6 September 2008 (7 Ramadhan 1376/1429 H) dan bertemu dengan Pemimpin Libya, Kol. Muammar Mohamed Abu Minyar Al-Gaddafi serta melakukan konferensi pers dengan Secretry of GPC for Foreign Liasion and International Cooperation (Menlu) Libya, Abdrurrahman Chalgham pada malam harinya di Hotel Corentia Bab Afriqiya (Gate of Africa), Tripoli.

Kunjungan tersebut hanya beberapa hari setelah Libya menandatangani Kesepakatan Persahabatan dan Kerjasama dengan Italia mengenai pembayaran kompenasi penjajahan Italia terhadap Libya sebesar US $ 5 miliar pada tgl. 30 Agustus (Hanibal) 2008. Penandatangan tersebut dilakukan oleh Kol. Gaddafi dengan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi. Dalam kesempatan tersebut Berlusconi juga meminta maaf kepada rakyat Libya atas perbuatan tidak menyenangkan dan penderiataan mereka selama penjajahan Italia terhadap rakyat Libya. Berlusconi juga mencium tangan putera pejuang Libya Omar Mukhtar yang menjadi syahid dalam peperangan Libya-Italia.

Kedatangan Menlu merupakan kunjungan pertama setelah kunjungan dilakukan oleh Menlu AS John F. Dulles pada tahun 1953 atau 55 tahun setelah kunjungan Dulles tersebut, dan pada saat itu Menlu Rice belum lag lahir.

Para pengamat mencatat bahwa kunjungan tersebut dilatarbelakangi minyak yang dimiliki Libya dimana saat ini produksi minyak Libya mencapai 1.7 juta barel perhari dan akan ditingkatkan menjadi 3 juta barel perhari. (Bayangkan, jika harga minyak sebesar US $ 100 saja, total hasil penjualan minyak Libya mencapai US $ 1.70.000.000 / US $ 1.7 miliar perhari. Bila dirupiahkan menjadi berapa triliun. Susah menuliskannya dalam angka). Libya memiliki cadangan minyak terbesar di Afrika. Selama ini yang mendapatkan proyek pengeboran dan eksplorasi minyak adalah perusahaan-perusahaan minyak dunia dari negara-negara seperti Rusia, Italia, Spanyol, Perancis, Jerman, dll termasuk dari Indonesia seperti Pertamima dan Medco.

Pertemuan antara Rice dengan Pemimpin Libya, dimana Kol. Gaddafi memperingatkan AS agar jangan mendirikan pangkalan militer di benua Afrika. Menurut Pemimpin Libya bahwa keberadaan Pasukan Militer AS di Afrika sebagai bentuk penajajahan AS terhadap Afrika. Walaupun Menlu Rice membantah dan menegaskan bahwa AS tidak berniat mendirikan pangkalan militer di benua Afrika. Kol. Gaddafi juga mengajukan pandangannya mengenai penyelesaian konflik Israel-Palestina dengan mendirikan negara ‘Isratin’ (Israel Plaestina) sebagai solusi penyelesaian konflik tersebut.

Pemimpin Libya menanggapi adem hubungan Libya-AS dengan mengatakan bahwa Libya tidak menginginkan AS sebagai sahabat dan juga tidak sebagai musuh. Biarkan Libya dengan keadaannya dan AS dengan keadaannya. Yang penting tidak ada lagi perang, penyerbuan dan terorisme.

Kendati Menlu Rice gembaira dengan perkembangan baru hubungan AS-Libya dimana dia menegaskan bahwa negaranya akan memperhatikan dengan serius pengembangan hubungannya dengan Libya di berbagai bidang, dimana dia merasa irtiyah dengan kenyataan perkembangan hubungan kedua negara selama ini, dan dia mengakui peranan Pemimpin Libya dalam menjaga kedamaian dan stabilitas dan pembangunan di benua Afrika dan khususnya peranannya dalam normalisasi hubungan diplomatik yang selama ini putus antara Chad dan Sudan dan usuhanya dalam perdamaian di Darfur yang kaya minyak, pujian tersebut tidak membuat Kol. Gaddafi melakukan ’basa basi’ kepada tamunya bahkan dia mengkritik politik AS atas adanya militer AS di Afrika dan bangsa Afrika akan menolak keberadaan militer AS di benua tersebut.

Rabu, September 10, 2008

KEMENANGAN POLITIK GADDAFI

Pada tgl. 30 agustus 2008 Perdana enteri Italia menandatangani pembayaran kompensasi ganti rugi kepada libya selama masa penjajahan Italia terhadap Libya sebesar US $ 5 miliar dalam bentuk pembangunan infrastruktur jalan raya lintas utara antara perbatasan Tunisia dengan mesir, dan pembangunan proyek lainnya, serta permintaan maaf kepada rakyat libya.

Minggu, Agustus 31, 2008

DI RUMAH PAK BEN



Photo diatas diambil di rumah Bapak Benyamin Parwoto, Komplek Patra, Kuningan, Jakarta Selatan ketika saya pamit untuk berangkat ke Tripoli, Libya tgl. 24 April 2008.

DI DEPAN GERBANG KBRI TRIPOLI, LIBYA.


Di depan gerbang KBRI Tripoli, Libya. Saya suka bergambar disitu karena pemandangan depannya yang bebas bisa melihat jauh ke alam semesta Tripoli yang panas menyengat pada musim panas.

BERPHOTO BERSAMA BAPAK DAN IBU DUTA BESAR RI


Setelah setelai pelaksanaan upacara HUT RI ke-63, tgl. 17 Agustus 2008 acara dilanjutkan dengan photo bersama. Photo diatas adalah photo para Lokal Staff pada KBRI Tripoli, Libya bersama Bapak dan Ibu Duta Besar RI untuk Libya, Drs. Sanusi.

MENJELANG RESEPSI DIPLOMATIK HUT RI KE-63



Gambar disebelah adalah podium menjelang Resepsi Diplomatik dalam rangka HUT RI ke-63, yang diselenggarakan di depan Gedung KBRI Tripoli, Libya.

UPACARA HUT RI KE-63 DI KBRI TRIPOLI, LIBYA


Dalam rangka hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-63, pada tgl. 17 Agustus 2008 telah dilaksanakan upacara peringatan HUT tersebut di halaman Kedutaan Besar Republik indonesia (KBRI) Tripoli, Libya. Bertindak sebagai inspektur upacara Duta Besar RI untuk Libya, Drs. Sanusi, komandan upacara Rahwantya Arisusanto, dan saya sendiri sebagai pembaca doa.

BERGAYA DI DEPAN BENTENG TUA, TRPOLI.


Saya sedang berpose dengan sedikit gaya...he..he.. di depan benteng lama kota tua Tripoli, Libya.

Rabu, Agustus 27, 2008

HAUL KE-3 ALLAHYARHAM PROF. DR. NURCHOLISH MADJID

HAUL KE-3
ALLAHYARHAM PROF. DR. NURCHOLISH MADJID ( 17 MARET 1939 - 29 AGUSTUS 2005). SEMOGA ARWAH AL-MAGHFURLAH DITERIMA DISISI OLEH ALLAH DAN SEMUA AMAL BAKTI BELIAU BAGI KEMAJUAN UMAT DAN BANGSA DIKABUL OLEH-NYA.
AMIN..

HEMBUSAN ANGIN POLITIK RELIGIUSITAS KE MAROKO


Baru-baru ini telah diadakan ‘Sarasehan Internasional I Tariqat Masyisyiyah-Syadziliyah (Al-Multaqa’ Al-Alamy Al-Awwal li Al-Tariqah Al-Masyisyiyah Al_Saydziliyah)’ di ibu kota Maroko, Rabat pada tgl. 29 Juli 2008. Sarasehan ini dihadiri oleh lebih dari 70 cendekiawan dan ulama, tokoh pemikir dan para murid sufi dari Maroko, dunia Arab, Eropa dan Amerika di Tangier (Tanjah) dalam kerangka Sarasehan tersebut.

Sarasehan ini merupakan pengakuan pada pemikiran tokoh Sufi besar Maroko Sheikh Maulawi Abdul Salam ben Emmasyisy dan muridnya Abul Hasan Al-Syadzili. Mufti Mesir Prof. Dr. Ali Jum’ah mengatakan peringatakan tokoh Sufi Besar dan Qutb Sheikh Emmasyisy dan muridnya sebagai peristiwa dan pengakuan atas pemikiran kedua tokoh tersebut dalam pemikira Tasawuf di tengah dunia yang tegang dan penuh kekerasan yang berasal dari keangkuhan dan tidak adanya rasa toleransi terhadap yang lain dan ketakukan antara yang satu dengan yang lain. Dia menambahkan, berkat kedua tokoh cedekiawan Sufi Besar dan Qutub ini kita belajar saling mencintai dan mengasihi satu sama lain, hikmah dan ketenangan yang hilang dari dunia modern dan pada waktu dunia iman tercerabut dari akar hati manusia. Apabila manusia modern mengakui dan mau belajar dari kenyataan ini maka kedua waliyullah tersebut telah mencapai makna hakiki terhadap teks dan dapat terkontribusikan ke dalam makna yang sangat mendalam.

DOKTOR KEHORMATAN (HONORIS CAUSA) UNTUK PEMIMPIN LIBYA



Pemimpin Libya, Muammar Gaddafi dalam kunjungan kenegaraan ke Tunisia, pada tgl 5 Agustus 2008 telah diberikan anugerah Doktor kehormatan (HC) oleh Universitas 7 November, Qartoug, Tunisia. Pemberian Dr. HC ini dalam bidang Peradaban Islam berkat kepedulian Pemimpin Libya dalam bidang tersebut dan kepeduliannya dalam bidang politik dan umatnya.

Prof. Dr. Gameel Ben Ibrahim, Rektor Universitas ‘Sabi’ November’ mengatakan bahwa penganugerahan Dr. HC ini diberikan kepada Pemimpin Libya, Muammar Gaddafi sebagai penghargaan atas perjuangan politik dan pemikiran serta perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan; Juga sebagai pengakuan atas berbagai usaha dan perjuangan yang diusahakan, dan bahkan terus diusahakan olehnya dalam pengkhidmatan kepada kepentingan bangsanya, umatnya, benuanya, bahkan untuk kemanusian pada umumnya; dan sebagai pengakuan atas kintribusinya pada pemikiran yang sangat spesifik, baik secara kawasan maupun regional. Maka sesungguhnya Universitas ‘Sabi Nobember’ sangat bangga dan mendapat kehormatan bisa disandingkan dengan Pemimpin Libya dalam penganugerahan Doktor Honoris Causa (Al-Dukrurah al-Fakhriyah) ini. Bahwa hubungan antara Tunisia-Libya adalah hubungan sejarah yang sangat ‘historical’ sifatnya dan klasik dimana kepentingan kedua Negara saling berkelindan bahkan semakin meningkat dalam hubungan kerjasama di bidang ekonomi, maupun gerak transportasi antar kedua Negara sehingga hubungan keduanya mencapai tingkat ideal.

Menteri Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Tunisia, Prof. Dr. Alazhar Bouauni mengatakan bahwa penganugerahan Doktor Honoris Causa Pemimpin Libya oleh Universitas 7 November, Qartaj sebagai pengakuan atas usaha-usaha beliau di bidang persoaan thruth, keadilan, perdamanan, prosperity yang terus menerus diusahakan oleh ‘the Leader’ demi terjadinya dialog antar kebudayaan dan kerjasama peradaban sehingga memperkuat ‘intima’ Arab Afrika kepada bangsa dan Negara dan menambah keterbukaan masyarakat kita terhadap masyarakat lain.

Pemimpin Libya pada lain pihak mengucapkan rasa syukur atas penganugerahan ini semoga menjadi media bagi pengakuan dan pengukuhan kerjasama ilmiah dan akademik antara Universitas Libya dan Tunisia. Gaddafi memaparkan sejumlah persoalan yang sedang dihadapi oleh dunia global saat ini, khususnya dunia Islam dan Arab, termasuk kemajuan yang sangat pesat dalam dunia global dan proses globalisasi yang terus maju semakin pesat. Dia menandaskan mengenai pentingnya diwujudkan persatuan dan kesatuan regional (takattulat iqlimyah) untuk menghadapi tantangan masa depan regional di bawah kebangkrutan yang pasti terjadi di dunia kapitalisme dalam bentuk ‘modern nation-state’, seraya ia mencontohkan pendirian Uni Afrika dan pembentukan pemerintahan federasi Afrika dibawah payung ‘United States of Africa’, sehingga membuat sebuah kekuatan ekonomi dan politik yang menggurita dan dapat menantang globalisasi dan kekuatan ekonomi kapitalisme.

Pemimpin Libya, Muammar Gaddafi telah mendapat puluhan penganugerahan Dr. HC dari berbagai Universitas Dunia dalam berbagai bidang. Dan ‘Universitas 7 November’ telah memberikan beberapa gelar Dr. HC kepada tokoh politik, cendekiawan dan businessman seperti Pangeran Al-Walid bin Talal bin Abdul Aziz dari Saudi pada bulan Mei tahun 2007.

PROF. DR. ABD. RAHMAN BADAWY (4 FEBRUARI 1917 – 25 JULI 2002)


Dilahirkan di desa Syurbash, Dusun Faskur, Propinsi Dimyath, Mesir. Lahir sebagai anak ke-15 dari 21 orang bersaudara, dari ayah seorang tuan tanah Badawy Badawy Mahmoud pada tanggal 4 Februari 1917. Menamatkan sekolah dasarnya di Faskour pada tahun 1929, kemudian lulus sekolah kejuruan di Sekolah Al-Sa’idiyah, Giza, pada tahun 1932; lulus BA pada tahun 1934. Setelah mendapat gelar BA, ia masuk lagi ke Fakultas Sastra, Jurusan Falsafah, Universitas Fuad I – sekarang Cairo University, selama menjadi mahasiswa ia dikirim kuliah ke German dan Austria, setelah kembali ke Mesir ia berhasil mendapat gelar Lc dari Universitas Fuad I pada tahun 1938 dengan nilai Excellent.

Setelah lulus dan arena keunggulannya, ia diangkat menjadi asisten dosen di Universitas dan berusaha untuk mendapatkan gelar Magister, dan berhasil pada tahun 1941. Thesis masternya berjudul, ‘Musykilat al-Maut fi al-Falsafat al-Wujudiyah’ (Problematika Kematian menurut Filsafat Eksistensialisme). Kemudian pada tahun 1944 ia berhasil mempertahankan siding disertasinya yang berjudul, ‘Al-Zaman al-Wujudy’ (Masa Eksistensilaisme). Diantara team penguji antara lain, Prof. Dr. Taha Husein, Amid Adab al-Araby, dimana saat itu beiau mengatakan, pertama kali kita menyaksikan filosof Mesir. Setelah mendapat gelar Doktor Filsafat diangkat sebagai dosen di Jurusa Filsafat pada bulan April 1945, kemudian Professor Madya pada tahun 1949. Pada tahun 1950 Badawy meninggalkan dunia dosen dan mendirikan Jurusan Filsafat, Fakultas Sastra, di Universitas Ibrahim Pasha – sekarang Ain Syam University – kemudian ia diangkata sebagai Professor Emeritus pada bulan Januari 1959.

Badawy bekerja di bidang kebudayaa sebagai Konsul Kebudayaa dan Direktur Utusan Pengiriman Mahasiswa ke Luar Negeri di Bern, Swiss (Maret 1956 – Nopember 1958. Aktifitasnya banyak sekali di Negara Barat maupun di Negara Arab, dimana dia mendirikan Jurusan Filsafat, Fakultas Sastra, Universitas Kuwait, Universitas Tehran, Universitas Tripoli; dan bekerja di beberapa Universitas sebagai Professor Tamu, seperti Libanon, Ma’had al-Dirasat al-Islamiyah, Faklutas Sastra, Sorbonne, Universitas Paris I, Universitas Benghazi, Kulliyat al-Ilahiyat wa al-Ulum al-Islamiyah, Tehran University, Guru Besar Filsafat Modern, Logika, Etika dan Tasawuf di Universitas Kuwait.

Kerya-karyanya

Ditinjau dari trend pemikiran Badawy yang cenderug pada mazhab Eksistensialis dalam filsafat, ia menulis buku mengenai pembelaannya terhadap Nabi Muhammad saw dan Islam. Mengenai hal ini, ia menulis buku, ‘Difa’ an Muhammad saw dhidd Muntaqidihi’, (Pembelaan terhadap Nabi Muhammad saw terhadap para Pengkritiknya); dan buku, ‘Difa’ an Al-Qur’an Dhidd al-Tha’iina fihi’ (Pembelaan terhadap Al-Qur’an terhadap Pe???) dan ditulis dalam bahasa Perancis. Kedua karya ini boleh dikatakan sebagai revolusi pemikirannya termasuk pembelaannya terhadap Nabi Muhammad saw dan Kitab Suci Al-Qur’an. Dia mengomentari hal itu dengan mengatakan bahwa dirinya bergelimang dalam pemikiran dalam dua sisi. Sisi Filsafat Umum, termasuk filsafat Eksistensialisme; dan pemikiran Pemkiran Islam. Dan saya tidak menzalimi antara yang satu dengan yang lain (antara filsafat Eksistensilalisme dengan pemikiran Islam). Dalam filsafat Eksistensialisme mempunyai dua belahan. Belahan atheis dan belahan imani. Ia berada pada belahan eksistensialisme imani, bukan atheism. Dia tenggelam dalam kajian Islam dan situasi dan keadaan umat Islam, meneliti karya-karya para Orientalis yang menulis tentang Islam, dan melakukan bantahan terhadap padangan mereka yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membongar kesesatan mereka.

Prof. Abd. Rahman merupakan seorang pemikir yang sangat produkti menelorkan karya-karya tulis. Karyanya dapat dikelompokan ke dalam beberapa kategori, seperti filsafat, sastra, pemikiran Islam, Orientalisme, Hellenisme, dan lain-lain. Semua karya dibidang tersebut lebh dari 50 buah karya, belum termasuk artikel yang ditulis dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Arab, Inggris, Perancis, Spanyol dan Jerman. Saya termasuk yang banyak mengakses karya-karya beliau untuk mengajar di Jurusan Falsah dan Agama, Universitas Paramadina dan hamper lengkap koleksi pustaka saya mengenai karya tulisnya. Diantara buku tersebut antara lain, ‘Mazahib Islamiyyin’, dua jilid besar yang memaparkan mengenai mzhab pemikiran dan teologi Islam, dari Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Syiah. Buku yang sangat luas dan mendalam penelitiannya dengan memberikan aspek historis dan pemikiran dari mazhab-mazahab filsafat dan teologi yang dibahasnya. Buku lainnya lagi adalah, ‘Tarikh al-Ilhad fi Al-Islam’ (Sejarah atheisme dalam Islam) yang memasukkan tokohnya, antara lain, Al-Rawandy dan Ibn Al-Haytsam sebagai atheisme. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia; dan buku lain adalah, ‘Al-Turats Al-Yunani fi al-Hadharat Al-Islamiyah’ (Warisan Yunani dalam Peradaban Islam), dan banyak lagi buku-bukunya mengenai tasawuf, dan lain sebagainya. Karya-karya Badawy mejadi rujukan dan referensi penting yang diajarkan di Universitas Sorbonne, Paris.

TEKA-TEKI NASIB PESAWAT SUDAN YANG DIBAJAK DI AIRPORT KUFRAH. PARA PEMBAJAK MENOLAK PERUDINGAN LANGSUNG DENGAN PIHAK LIBYA

Libya al-Youm, Rabu, 27 Agustus 2008
Al-Kufrah

Para pembajak pesawat Sudan yang mendarat Selasa kemarin di airport Kufrah, Libya menolak para penumpangnya keluar dari pesawat walaupun sudah 5 jam mereka disandera di dalam pesawat. Direktur Airport Kufrah, Khalid Sasiyah mengatakan kepada Kantor Berita Libya (Jana) Selasa malam bahwa perundingan sedang berlangsung dengan para pembajak melalui Pilot pesawat sejak 1.19 menit lalu menurut waktu setempat Selasa kemarin agar para penumpang diperbolehkan meninggalkan pesawat sehingga dapat dilakukan bantuan kemanusiaan kepada mereka. Dia mengatakan bahwa para pembajak memberitahukan melalui pilot penolakan mereka para penumpang keluar dari pesawat, bahkan membuka pintu pun tidak diperbolehkan sejak pesawat tersebut mendarat.

Pilot pesawat menyampaikan bahwa jumlah pembajak kurang lebih 10 orang, tapi kemudian dia meralat pernyataannya yersebut dan mengatakan bahwa jumlah tersebut lebih dari 10 orang. Mereka berasal Front Pembebasan Sudan, Faksi Abdul Wahid Nur yang menetap di Paris. Pilot pun menyampaikan kepada Direktur Airport Kufrah bahwa mereka menolak diajak dialog dan tuntutan mereka adalah hanya meminta penambahan bahan bakar untuk terbang ke Paris. Mereka meminta peta penerbangan ke Paris. Mereka juga menolak mengizinkan penumpang yang pingsan meninggalkan pesawat.

Menurut para wartawan bahwa airport Kufrah siap mengambil berbagai langkah penyelamatan untuk membantu kemanusiaan penumpang, termasuk menyediakan kendaraan ambulance secara lengkap dan hansip yang sudah berada di airport sejak pesawat mendarat. Laporan tersebut sesuai dengan pernyataan Muhammad al-Billah Othman, Konsul Sudan di Kufrah bahwa para pembajak pesawat meminta pengisian bahan bakar dan diperbolehkan terbang ke Paris.

Pesawat yang dibajak jenis Boeing 337-200 dan mengangkut 84 penumpang dan 8 petugas dari Darfur menuju Khartum. Diantara penumpangnya terdapat pejabat pemerintah dari Gerakan Pembebasan Sudan, pimpinan Mini Arko, penasehat Presiden Sudan. Penguasa Darfur Selatan, Ali Mahmud mengatakan bahwa presiden Omar Bashir akan meminta kepada Pemimpin Libya, Muammar Gaddafi untuk melakukan pengambilan langkah mengenai keselamatan penumpang. Diberitakan bahwa pembajak menolak untuk mengadakan perundingan dengan utusan pemerintah Libya.

Pihak Front membantah bahwa Front Pembebasan Sudan, Faksi Abdul Wahid Nur terlibat dalam pembajakan tersebut. Kantor Berita Libya mengatakan bahwa sejumlah petugas bergerak ke airport Kufrah untuk memantau situasi dan memberikan kemudahan kemanusiaan bagi penumpang pesawat tersebut.

Pihak Sudan Aviation Sudan mengatakan bahwa pesawat naas tersebut take off setengah jam dibajak dan pembajak meminta merubah arah ke Cairo kemudian ke Kufrah pada Selasa sore waktu Sudan, dengan flight no. 611 menuju Khartum dan didalamnya terdapat 87 orang penumpang dengan petugas 8 orang. Pesawat tersebut mendarat di airport Kufrah pad jam 7.40 waktu Sudan. Nampaknya pembajak melakukan hal ini untuk mengambil perhatian dunia apa yang sedang terjadi di Darfur.

Pihak Sudan mengatakan bahwa musibah pesawat yang sering terjadi di Sudan sebagai akibat dari embargo yang diterapkan oleh AS terhadap Sudan bagi suku cadang pesawat sipil.



PEMBEBASAN SEMUA PENUMPANG PESAWAT SUDAN YANG DIBAJAK

Al-Arabonline, 27 Agustus 2008

Tripoli, Arab on line

Berita yang dilansir oleh Kantor Aviation Libya Rabu ini (27/8/2008) menjelaskan bahwa semua penumpang pesawat Sudan yang dibajak di airport Kufrah Selasa kemarin telah dibebaskan. Saat ini sedang dilakukan perundingan dengan pembajak dan masih berjalan untuk membebaskan para petugas pesawat (pilot dll). Kantor tersebut juga menjelaskan bahwa jumlah para pembajak berjumlah 2 orang, berasal dari Tentara Pembebasan Sudan, Faksi Abdul Wahid Nur. Saat ini kedua pembajak sedang dilobby untuk menyerahkan diri.

Pihak Libya telah mengambil lagkah-langkah bantuan kemanusiaan kepada para penumpang jika pihak pembajak menolak perundingan apapun dan bersikeras meminta bahan bakar untuk terbang ke Paris.
Pada Rabu sore Libya berhasil berhasil membebaskan semua sndera dan meloby para penyandera menyerahkan diri.

Selasa, Agustus 26, 2008

PERINGATAN PENGUSIRAN TENTARA AS DARI LIBYA

Hari Rabu, 11 Juni 2008 (12 Shaif 1376 wr) tepat 38 tahun lalu, atau 11 Juni 1970 merupakan hari bersejarah bagi rakyat libya. Pada hari tersebut rakyat Libya dengan gagah berani berhasil mengusir tentara Amerika dari wilayah negaranya. Pengusiran tersebut bukan hanya sebatas tentara AS tapi juga semua kepentingan militer Amerika Serikat termasuk pangkalan militernya. Peringatan hari pengusiran tersebut dilaksanakan di Pangkalan Udara militer di Maitiga, Tripoli (Halim Perdanakusumanya Tripoli).

Pemimpin Libya, Kol. Muammar Gaddafi dalam pidato yang cukup panjang dan tanpa teks mengilas balik sejarah perjuangan bangsa Libya melakukan perjuangan mengusir tentara penjajah Amerika Serikat, dan juga tentara Inggris dan Italia yang berbaju sipil. Bahkan mengulas masalah-masalah perkembangan politik ’terkini’ (al-saa’ah) yang menjadi perhatian dunia.

Memang bisa dibayangkan penduduk Libya yang hanya beberapa juta saja bisa mengusir tentara terkuat di dunia. Bukan karena hal lain, karena AS kehilangan muka di dunia karena diusir oleh sebuah negara yang penduduknya sedikit. Tentunya banyak hal lain yang membuatnya marah, walau banyak dari tuduhan bohong dan hanya rekayasa. Seperti yang terjadi di Irak, semua tuduhan yang ditimpakan pada Saddam Husen semuanya tidak terbukti. AS hanya memang ingin menguasai kekayaan minyak Irak yang merupakan cadangan minyak terbesar dunia.


Pengusiran ini merupakan bukti keberanian bangsa libya. Walaupun sedikit jumlah penduduknya tapi revolusioner dan berani melawan musuh yang lebih besar dan lengkap persenjataannya. Pada saat sebelum pengusiran AS mempunyai lima buah pangkalan militer di wilayah Libya. Pangkalan militer ini dipergunakan untuk menghantam tentara negara-negara Arab lainnya seperti perang segi tiga Mesir tahun 1956 pada masa presiden Gamal Abdul Nasser. Pangkalan militer tersebut juga dipergunakan untuk melatih para teroris untuk melakukan aksi terorisme di berbagai belahan dunia. Kemenangan pengusiran ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Kol. Gaddafi berhasil melakukan revolusi al-Fateh al-Azim pada tanggal 1 Al-Fateh (September 1969) ketika menjabat sebagai opsir merdeka yang berpangkat Kapten dan berusia 27 tahun. Kemudian pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel.



DI DEPAN TOKO SOUVENIR OLD CHITADEL, TRIPOLI

Di depan toko souvenir khas Libya yang mencerminkan kehidupan padang pasir dan nomadis.

DI DEPAN BENTENG LAMA TRIPOLI, LIBYA



Didepan Old Chitadel, Kota Tripoli, Libya (23 Agustus 2008). Nampak dalam gambar bangunan tua yang merupakan tembok pertahanan (benteng) yang berada di tepi laut kota Tripoli, yang sekarang menjadi pusat kota dan objek wisata. Istilah di Tripoli dikenal dengan 'Madinah'. Tripoli merupakan kota yang tidak terlalu besar utuk ukuran sebuah ibu kota. Tempat rekreasi juga tidak banyak kecuali berenang di pantai yang suka maupun mancing bagi yang hobby. Satu-satunya tempat tujuan yah madinah tersebut. Kalau di Jeddah samam dengan 'Balad'. Biasanya waktu kita banyak habiskan dengan melihat barang-barang di toko, walau tidak beli, karena harganya bila dirupiahkan cukup mahal. Paling hanya maan diresto Turki atau Mesir, bahkan makan makanan khas Libya.

Kota lama Tripoli ini juga merupakan objek wisata bagi para wisatawan manca negara. Di dalam kota terdapat pasar tradisional dan barang-barang lainnya, juga terdapat toko-toko emas, souvenir dsb. Benteng Tua ini merupakan daerah pertahanan dari serangan luar terutama menggunakan pasukan kapal laut. Maklum pad zaman itu belum ditemukan kapal tempur (udara). Di dalam bangunan Chitadel terdapat museum yang mengisahkan perjalanan kota Tripoli sejak zaman kuno, Yunani, Romawi, Islam dan modern.

Tripoli sendiri berasal dari Tripolitania atau tiga kota. Pertama Kota Leptis Magna (ceritanya nanti khusus), Kedua kota Oui (Nama kuna Tripoli) dan Misurata. Ketga kota pesisir ini merupakan kota penting pada zaman Romawi. Peninggalannya masih utuh dan ada hingga sekarang yang dikenal sebagai Leptis Magna (Leptis Besar) utuk membedakan dengan Leptis Minor yang terdapat di Tunisia.

Selasa, Juli 22, 2008

OBITUARI CAK NUR

Bulan Agustus ini, tepatnya tanggal 29 Agustus 2005 lalu telah berpulang ke rahmatullah Allahyarham Al-Maghfurlah Prof. Dr. Nurcholish Madjid, setelah menjalani sakit cukup lama pasca operasi cangkok lever di Cina.

Untuk mengenang peristiwa tersebut biasanya diadakan sarasehan di Aula Kampus Universitas Paramadina dengan berbagai kegiatan. Semasa hidupnya, Cak Nur banyak membuat sunah hasanah di berbagai level kehidupan. Begitu juga di kampus UPM. Ada sebuah sunah yang menjadi favorit banyak orang, yaitu sarasehan sehabis salat Jum'at, baik di Kampus UPM maupun di Yayasan Wakaf Paramadina di Pondok Indah.

Minggu, Maret 09, 2008

BERSAMA VERY AZIZ

Very Aziz, dosen HI UPM yang menjadi pembimbing mahasiswi Farida Zahra yang menulis skripsi tentang Libya (lihat dibawah). Sahabat saya yang juga alumni Al-zhar University Cairo Fakultas Ushuluddin, Depratemen Tafsir dan S2 Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Jalan yang dutempuh oleh Very bisa menjadi inspirasi bagi alumni Timur Tengah lainnya, terutama Kulliyat Dakwah Islamiyah, Tripoli - yang saya perhatian bingung mengambil langkah - untuk mencangkok disiplin yang berbeda di tanah air sehingga bisa menembus dunia pendidikan yang lebih luas dn bergabung dengan Universitas Umum sehingga lebih membuka cakrwala pemikiran dan juga pergaulan tentunya, sehingga gak jadi kuper.

Mahasiswa Kulliyat Dakwah Islamiyah Tripoli masih belum bisa menembus cakrawala dan horizon yang lebih membahana seperti mahasiswa Cairo, karena lingkungan ilmiyah dan sarana pendukung lainnya seperti penerbitan buku-buku yang tidak produktif. Berbeda dengan Mesir yang sangat besar produktifitas penerbitan buku-buku bahkn Pemerintahnya menggalakkan dengan menerbitkan buku murah denga isi dan mutu yang sama, begitu juga jurnal, dan lain-lain. Hal ini belum kita dapati di Libya, yang kebanyakan buku-bukunya barang import dari Mesir dan Libanon, dengan banyaknya buku-buku turats. Belum mainstream pemikiran yang berkembang, masih jauh dibawah Mesir. Kondisi ini yang membuat wawasan mahasiswa Mesir dan Tripoli sangat berbeda dalam melihat suatu permasalahan. yah.. msih gaya kampung gitu lho.. Bisa dimaklumi karena mereka datang dari kampung (pesantren maksudnya0 di desa terus ke luar negeri, sehingga melihat persoalan juga masih belum bisa menganalisa denga baik. Saya sarankan bagi mahsiswa yang berniat belajar di Tripoli urungkan saja niat anda, lebih bagus alihkan ke negara lain seperti Mesir, Jordan atu Syria, karena lebih berbobot.

SKRIPSI MAHASISWA UPM

Ini adalah skripsi yang ditulis oleh mahasiswa hubungan Internasional Universitas Paramadina, Sdri Farida Zahra (diwisuda tanggal 2 Maret 2008 lalu) yang berjudul: Perubahan Politik Luar Negeri Libya Melalui Penghentin Program Weapons of Mass Destruction (WMD) Sebagai Upaya Normalisasi Hubungan Libya-Amerika Serikat (2003-2006) yang dibimbing oleh Very Aziz, Lc., MSi. Barangkali ini merupakan salah satu sumbangsih Paramadina, walau masih dalam tahap pendahuluan. Saya harap Farida Zahra, yang ternyata tetangga saya di rumah, karena saya masih satu kelurahan dengannya, dapat melanjutkan kajiannya tentang Libya dalam studi magister dan doktoralnya.

Perkenalan ini didorong oleh infor yang dikeluarkan oleh pihak UPM dalam news letternya menjelangkan upacara wisuda di kampus, dan saya membaca ada skripsi yang menulis tentang Libya, dn saat itu saya sedang mengurus keberangkan saya ke Libya karena ditempatkan oleh Deplu Jakarta berdasarkan hasil rekruitment lokal staff yang diselenggarakan oleh Deplu Pusat di Jakarta.

Selamat untuk Farida dan jangan berhenti sampai disitu...

SAHABAT AYAH

Photo diatas diambil pada saat upacara pernikahan adik perempuan, dimana saya bertindak sebagai wali yang menikahkannya menggantikan al-marhum ayah saya. Gambar di sebelah adalah sahabat setia ayah saya dalam berbagai aktifitas kerjanya terutama dalam pembebasan lahan-lahan perumahan kawasan di sekitar Pulo Gebang di bawah bendera PT ASCO pada saat itu.

BAPAK BENYAMIN PARWOTO

Pak Benyamin Parwoto, bersama istri, adalah mantan Duta Besar RI di Canada dan mantan Dirjen Anggaran Departemen Keuangan. Beliau diantara salah seorang pencinta dan pengagum (alm.) Cak Nur dan bergabung bersama beliau semasa Cak Nur memimpin Yayasan Wakaf Paramadina dan Universitas Paramadina (UPM). Bahkan Pak Ben adalah orang yang paling berjasa mendapatkan tanah untuk kampus UPM yang terletak di Jl. Jend. Gatot Subroto sekarang yang sebelumnya Pusdiklat Bank Mandiri.

Para Petinggi Universitas Paramadina (UPM) yang baru, seyogianya melihat aspek ini dan menghargai peran orang yang berjasa terhadap institusi yang dipimpinnya. Walaupun saya Pak Ben tdak akan pernah meminta 'dihormati', karena saya tahu beliau tidak akan gila hormat. Tapi sesuai dengan prinsip yang selalu diulang-ulang ole pendiri UPM, Allahyarham Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur) mengutif pepatah Arab "Al-fadhlu lil Mubtadi Wa in Ahsa al-Muqtadhi". Arti bebasnya kurang lebih, "Yang patut kita acungkan jempol adalah yang memulai, walau yang meneruskan itu lebih bagus (prestasinya)". Karena alhamdulillah saya faham baha Arab sehingga saya merespi pesn itu, karena Cak Nur selalu mengulangi pepatah tersebut. bahkan pepatah itu juga yang saya kemukakan dalam penggantian pajabat semestara Rektor Universitas Paramadina dari Prof. Dr. Marsudi W. Kisworo kepada Sudirman Said. Cukup panjang memang sejarah UPM dengan segala dinamika baik positf mapun kurang baik dalam soal ini. Karena proses diatas dianggap sebagai kudeta. Bahkan yang terkana 'efe domino'nya adalah Prof. Dr. Faisal Afiff, adik almarhum Prof. Saleh Afiff yang juga dikudeta dari posisi PR 3 UPM. Saya masih ingat beliau mengontak saya, dan saya sedang berada di JL. Rasuda Said Kuingan dalam perjalanan pulang dari UPM ke rumah, kira-kira jam 8 petang, Prof. Faisal curhat sambil sedih mengatakan, salah apa saya. Saya tidak melanggar peraturan dsb. Kenapa kesalahan orang lain- walau masih perlu klarifikasi- orang yang terkena sasaran. Begitu kurang lebih isi curhat Prof. Faisal kepada saya. Saya memag sangat akrab degan beliau dan juga dengan Prof. Achmady (ZA), kakak Prof. Ichlasul Amal.

Para petinggi UPM saat ini, karena semuanya baru dan rata-rata tidak mengetahui perjuangan dan jatuh bangunnya para "Assaabiquunal Awwaluun" atau 'al-mubtadi' bisa mengadakan audiensu atau apa namanya dalam suasan santai sambil makan siang cerita-cerita perjuangan mereka maupun kenangan selama berjuang bersama UPM dari cikal bakal hingga seperti sekarang ini.

Mudah-mudahan...

TIGA BUKU YANG MEMENGARUHI


Inilah tiga buku yang memengaruhi hidup kita, termasuk saya tentunya. Pertama, Islam doktrin dan Peradaban karya (alm) Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Kedua, 8 Etos karya Jansen H. Sinamo, dan ketiga Jejak Langkah Mengenal Allah karya Asfa Davy Bya. Buku "Islam: Doktrin dan Peradaban" merupakan buku yang membimbing kita pada akidah yang lurus dan benar, dalam memahami konsep ketauhidan dan semangat serta implikasi tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, makna yang dikupas didalamnya diimplementasikan oleh semangat dan spirit etos kerja yang diformulasikan oleh Bung jansen Sinamo dalam semangat 8 etos kerja. Bung janson merupakan seorang inspirator yang selalu mengisi salah satu episode di Radio Smart FM; dan Radio Smart FM ini merupakan sahabat saya dalam kemacetan ria di ruas jalan tol di Jakarta. 8 Etos kerja ini merupakan 'perasan dan santan'nya isi kandungan Al-Qur'an, yang sebeanrnya dari pengalaman Bung Jansen menjadi motivator di Lembaga Carnegie. Perkenalan saya dengan Dlae Carnegie, kembali ke tahun 82an ketika saya menjadi mahasiswa di Cairo Mesir. Saya membaca karya Dale carnegie yang telah diterjemahkan ke dalam bahsa Indonesia - judulnya saya lupa - tapi isinya yang menceritakan jatuh bangu dan kesuksesan tokoh-tokoh yang telah mengukir kesuksesan dalam berbagai bidang. Pada saat itu fenomena 'motivator' belum semarak seperti sekrang ini. Saya merasakan sebenarnya ajaran Islam tidak berbeda dari apa yang digambarkan oleh Dale Carnegie, karena kita umat Islam hanya melihat Islam dari sisi formalnya saja, seperti aspek syariatnya dengan segala aturan dan kegiatannya. Kita belum melihatnmya dari sisi substansnya, yang pada tingkat ini seseorang akan smpai pada hakikt beragama yng 'khalis' da sempurna. Dari sisi trilogi Islam berada pada maqam 'ikhsan' yang secara generik Nabi menjelaskan bahwa kita menghamba pada Allah SWT seolah-olah Allah sedang memperhatikan penghambaan. Andaikan kita tidak melihat tapi kita yakini bahwa Allah melihat kita". nah... semangat da spirit "diperhatikan dan diawasi' Allah ini menjadikan nilai penghambaan dan perbbuatan dan pekerjaan menjadi susatu yang amt sangat bermutu. itulah yang ingin diraih oleh Bang Davy lewat karya, yang merupakan pengalaman dan pengamalan penulisnya, "Jejah Langkah Menenal Allah'. Jadi semangat keimanan yang diimplementasikan dengan 8 semangat etos kerja dan dibuktikan dengan 'tawajjuh' kepada Allah seperti dibimbing oleh 'Jeja langkah mengenal Allah' sudah cukup bagi kita mejadi seorang yang terbimbing dan tercerahkan, bahkan terselamatkan. Semoga. Amin.

BERSAMA MUNIR WASPADA, SH


Gambar di atas diambil di halaman parkir staff dan dosen Universitas Paramadina, Jl. Gatot Subroto. Kebetulan ketika saya mau keluar, berjumpa dengan Pak Munir Waspada, dan terciptalah gambar. Pak Munir Waspada adalah salah seorang advokat dari Paramadina Law Firm., dan juga tenaga pengajar di UPM. Saya melihat semangat dan idealisme yang sangat kuat pada diri beliau. Saya kagum dan belajar dari spirit beliau. Saya masih ingat, ketika bercerita tentang pengalaman beliau mendirikan Bada Penyehatan Perbankan nasional (BPPN), yang akhirnya beliau meninggalkan dan mundur dari pejabat di institusi pemerintah yang mengurus keuangan BLBI yang menilep aset rakyat hampair 600 trilyun rupiah itu. Karena dalam perkembangannya yang kita tahu melalui media massa maupun berita lainnya, bahkan kini telah dibubarkan, karena bertentangan dengan 'nurani' beliau. Selamat pak Munir, semoga Allah senantiasa membimbing hidup kita. Amin.

Al-Azhar Mosque and University


Ini adalah gambar masjid Al-Azhar Cairo, Mesir. Mesjid ini mempunyai ciri khasnya yaitu mempunyai dua cabang menara kecil pada salah satu menaranya. Masjid ini cikal bakal berdirinya Universitas Al-Azhar yang melegenda sampai sekarang dan merupakan simbol pemikiran moderat Islam di dunia Muslim suni, walau sebenarnya Masjid ini didirikan oleh penguasa Syiah (bahkan Syiah Ismailiyah), dari Dinasti fathimiyah. Dinasti ini dulunya berpusat di Tunisia. Dalam perjalananan dari Tunis ke Mesir penguasa Dinasti tersebut juga membangun istana di Libya pada abad ke-10 H yang sampai hari ini peninggalannya masih ada walau kurang terurus. Belum lama ini (30 juni 2008) telah dikunjungi salah seorang tokoh yag terlibat dan saksi mata kemenangan revolusi Al-fateh (September) di Libyah Mayjen. Al-Khaweldi Al-Hamedi mengunjungi tempat tersebut.
Masjid tersebut didirikan untuk mengembangkan mazhab dan faham Syiah guna mendukung perjuangan pemikiran syiah yang berkembang di belahan dunia lain, seperti misalnya mazhab "Ikhwan Al-Safa" yang menjadi gerakan pemikiran bawah tanah di daerah kekuasaan Dinasti Abbasiyah yang sunni di Daghdad. Memang akhirnya, ketika Mesir dibawah kekuasaan penguasa Kurdistan dibawah kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi, masjid dan Universitas ini menjadi mazhab Sunni. Kekuasaan Kerajaan yang dipimpin Suku Kurdistan ini meliputi negara-negara (sekarang) Syria hingga Mesir. Andaikata pada saat itu muncul faham nasionalisme sempti yang dianut oleh dunia saat ini, dapat dipastikan dunia Arab akan berbicara bahasa Kurdistan atau bahasa Kurdistan menjadi bahasa resmi beberapa kawasan Arab. Tapi para penguasa yang sangat orientasi Islam dan tidak memandang perbedaan bahasa dll sebagai kendala untuk melihat keuniversalan Islam. Begitu Turki, ketika di bawah kekuasaan Ottoman (Usmany) menguasai seluruh kawasan Timur Tengah dari Tunis, Mesir dan Asia serta Balkan, andaikan mereka menerapkan faham nasionalisme sempit tadi, pasti bahasa Turki menjadi bahasa nasinal di negara-negara Timur Tengah.
Shalahuddin Al-Ayyubi ini yang mengubah karena kekuasaannya, menjadi faham sunni yang dianut oleh mayoritas umat Islam dunia. Sedikit catatacan bahwa dalam perembangan sejarah faham apapun sangat erat dengan kekuasaan. Seperti penyebaran mazhab-mazahab fikih di dunia sunni saat ini juga erat hubungannya dengan kekuasaan. Seperti misalnya, mazhab maliki yang banyak dianut oleh umat Islam Afrika Utara seperti Libya, Tunis, Al-jazair dan Maroko, kenapa yang dominan, padahal Imam Malik merupakan satu-satunya imam mazhab yang tidak pernah keluar kota, kecuali Makkah, dan itupun untuk melakukan haji. Based beliau adalah Madinah Munawwaroh. logisnya adalah mazhab beliau dianut oleh Saudi Arabia atau kota dimana beliau menetap. Tapi Saudi Arabia bermazhab Hanbali, yang berasal dari baghdad.
Nah..fenomena harus difahami dalam konteks kekinian. Siapa yang berkuasa dan mempeunyai pengaruh secara politik dan ekonomi, mka boleh jadi fahamnya aan berkembang sesuai dengan kekuasaan tadi. Seperti misalnya PKS yang punya akses ke gudang duit di Timur Tengah, tidak bisa tidak juga mengembangkan faham pemberi dan penyumbang dana tadi. dan secara historis mazhab mereka banyak perbedaan dengan mazhab yang telah eksis di tanah air lebih dahulu. Walaupun berbedaan mazhab tersebut tidak ada masalah dalam beragama (dalam hal ini Islam), tapi memang dikalangan gress root masih terdapat pandangan yang memilukan karena kebodohan mereka dan klaim kebenaran yang eksklusif. Istilah kapling 'surga' menjadi otoritas dan prerogatif mereka. Aneh.... karena yang benar adalah saling menghormati sesam pandangan mazhab yang ada. Bukannya saling menyalahkan. Seperti contoh kecil saja istilah yang diributkan dalam soal tahlil. Mazhab Hanbali (Wahabi) itu bid'ah, tapi mazhab Syafi'i (NU) mengembangkannya, sehingga saling menyalahkan. yang benar dan ideal adalah saling menghormati faham tadi. karena soal ini sudah final pada tataran imam mazhab. bagi yang meilih mazhab tertentu harus belajar dan tahu mazhab yang lain, begitu mazhab yang satu jangan menyalahkan mazhab yang lain. Tidak klaim paling benar paling suci. yang berhak menentukan itu hanya Allah saja. Kita hanya meakanakan dengan sebaik-baiknya dengan prinsip 'fastabiqul khairaat', berlomba-lomba saja dalam kebaikan.
Saya komentari hal ini karena di tripoli masih menjadi persoalan masalah yang sepele dan sudah final di tataran imam mazhab tadi. Ini lah yang saya atakan mahasiswa Indonesia di tripoli masih belum mempunyai wawasan yang membahana dan mengglobal.
Aneh... tapi nyata... bukan di Indonesia tapi..juga di Libya. (meminjam salah stu mata acara berita di RCTI)

Selasa, Maret 04, 2008

BERSAMA BUDHY MUNAWAR-RACHMAN


Photo bersama Budhy menjelang keberangkatan saya ke Tripoli di Restoran Kampoeng Sangkuriang, Jl. Raya Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Budhy adalah seorang yang sangat panjang mendampingi al-marhum Cak Nur dalam keterlibatan beliau menjadi 'mujtahid' dalam berbagai bidang keilmuwan Islam. Posisinya pada saat itu adalah Direktur Pusat Studi Paramadina, dibawah Yayasan Wakaf Paramadina Pondok Indah. Pola yang dikembangkan oleh Pusat Studi Islam Paramadina saat itu merupakan 'madrasah' yang mengilhami banyak kajian serupa seperti (saat itu) Kajian Taasawuf Kang Jalal, Kajian Tasawuf yang dikembangkan oleh Wahfiuddin dan lain sebagainya di berbagai tempat. Hampir belasan tahun Budhy mengembangkan pola seperti, yang akkhirnya terasa jenuh bagi peserta dengan pola yang selama ini dikembangkan. Akhirnya Budhy mengembangkan inovasi dengan pola training dan menjemput bola yang dikembang lewat Center for Leadership and Spirituality yang dipimpinya dan berhasil melakukan peyuntingan Ensiklopedia Nurcholish Madjid yang kemudian diterbitkan oleh penerbit Mizan dan Paramadina.

MY LIBRARY


Gambar di atas salah sudut ruangan perpustakaan saya yang terletak di lantai atas rumah saya. Alhamdulillah koleksi buku dalam disiplin keislaman cukup lengkap mulai dari kajian pokok Ilmu Al-aqur'an dan Tafsir, Hadits, tasawuf, filsafat, fikih, bahkan lughah dan bahasa dengan didukung berbagai kamus dan lain-lain.
Bahkan referensi yang saya miliki cukup membantu beberapa teman saya maupun teman sahabat saya yang sedangkan mengerjakan thesis terutama di UIN Jakarta memanfaatkan buku-buku koleksi yang saya miliki.
Koleksi buku-buku ini saya mulai sejak masih menjadi mahasiswa di Cairo-Mesir, kemudian di Islamabad Pakistan dan berlanjut di Jeddah. Bahkan ketika di Jeddah, karena saya sudah menjadi lokal staff di KJRI dan kemudian di Konjen Brunei Darussalam memprogramkan pembelian buku-buku setiap dengan anggaran antara 150-200 Riyal Saudi sebagai ungkapan rsa syukur kepada Allah SWT.
Alhamdulillah buku ini menjadi sahabat dalam mengarungi semua kegiatan dan aktifitas saya selama mengabdi di msyarakat umum mupun kampus dan masyarakat kajian.

KERINDANGAN


Kerindangan, hijau dan suasana segara merupakan dambaan setiap manusia, apalagi yang sudah terbiasa dengan alm seperti itu. Hal ini tidak kami dapati di negara yang bergurun pasir, seperti di Libya. Kehijauan merupakan barang langka di kwasan tersebut, walau pada dasarnya beberapa subur. Tpi memang yang bertahan hidup jenis pohon-ponon tertentu saja yang tahan terhadap cuaca dan alam. kadang-kadang kita merindukan suasan kehijauan dan kerindangan. Pemandangan diatas hanya sebagian dari ungkapan kerinduan kepada tanah air Indonesia yang merupakan 'representasi' surga di dunia. memang orang Arab megugkapkan dalam istilah mereka adalah 'jannah', yang berarti surga dan taman.

KANTOR


Ini adalah kantor kedua saya setelah Universitas Paramadina. mksud saya, sebenarnya kantor sahabat saya yang menjadi Direktur Utama salah satu perusahaan. Karena untuk mengakses internet di kampus sangat lambat, terutama pada jam aktifitas kantor dan perkuliahan, akibatnya banyaknya pemakai, maka saya ke kantor 'kedua' untuk melakukan aktifitas yang ada hubungannya dengan jaringan internet. Disatu saya sangat enjoy dengan kecepatan bersilancar di dunia maya. Banyak yang saya perbuat terutama untuk mendukung perkuliahan yang saya ampu, baik di Universitas Paramadina maupun di Islamic College for advanced Studies (ICAS). Terima Pak Q.K. Dikara barcah, MBA yang telah memberikan saya kesempatan untuk menggunakan kantor dengan segala fasilitasnya, semoga semua ini menjadi amal baik anda disisi Allah SWT. Amin.

VIEW UPM

Gambar dan view Universitas Paramadina yang saya ambil dari jalan tol Gatot Subroto. Sebuah lokasi yang kaya filosofis dari perspektif pandangan Cak Nur. Cak selalu mengulang-ulang makna filosofis lokasi di jalan protokol ini. Beliau melihatnya dari arah timur, mulai dari Universitas Kristen Indonesia (UKI), terus menusuk ke dalam ada Univeritas Atmajaya (Kristen), terus sampai ujung Barat Universitas Pelita Harapan (UPH) yang juga Kristen. Sepanjang jalur protokol belum ada Universitas yag berwawasan Islam. Universitas Islam ada, tapi adanya di pinggir dan kumuh. inilah yang meneguhkan hati Cak Nur dengan argumen yang sangat kuat makna filosofis untuk tetap bisa mendapatkan lokasi di kawasan jalan protokoldan strategis; dan keinginan filosofis ini diformulasikan oleh Pak Ben (Benyamin Parwoto) dengan relasi dan persahabatan beliau dirut Bank Mandiri ECW Neloe, dan bos Bank Mandiri pada prinsipnya tidak ada halangan dan keberatan selama ada izin dari pemiliknya Menteri Keuangan (waktu itu dijabat oleh Drs. Priadi), maka terwujudlah apa yang dapat kita saksikan dan dinikmati oleh segenap civitas akademika Universitas Paramadina (UPM).

Saya cukup intersnsif dalam rapat-rapat tentang masa depan sistem dan target pendidikan di UPM setelah mendapat lokasi sekarang. Istilah Can Nur mimpi ke depannya bagaimana. Cak Nur mengungkapkan apa yang beiliau inginkan, bahkan saya sendiri mengungkapkan mimpi saya juga dalam rapat-rapat tersebut dengan mecontoh International Islamic University (IIU) Islamabad, Pakistan dengan integralitas antara main campus, central library dan masjid dalam satu kesatuan building. Cak Nur meambahkan mimpi saya dengan satu suku kata 'catch eyes' yang bisa dengan jelas dipadang mata dari jalan protokol dan menjadi landmark di kawasan itu. Ini barangkali mimpi 9boleh juga disebut wasiat beliau) yang belum mewujud dalam kenyataan, yang dipikirkan dan diupayaka oleh para pimpinan sekarang. Bahkan pemekaran dari ide tadi mencita-citakan agar wisuda diadakan di masjid main campus tadi dengan disulap menjadi aula besar dengan menggunakan baju besar (bukan toga) seperti yang dikenakan oleh Syeikh Al-Azhar di Mesir dengan topiya. Karena tradisi memindahkan tali topi pada saat widuda merupakan penjplakan dari tali yang dikenakan oleh para 'Suyukh' (Guru Besar) Universitas Al-Azhar. Bahkan Cak Nur konsep pendidikan yang dikembangkan di Universitas Oxford dan Cambridge di Inggris mejimplak sistem pendidikan Islam di Andalusia (Spanyol) sekarng.

MY FAMILY


Ini adalah keluarga saya. Dalam gambar yang diambil di rumah mertua saya, yang keturunan kauman banten, dari Pengian Sagiri, yang makamnya di Jatinegara Kaum, saya bersama istri saya dan enam orang putra-putri. Kebetulan putra kedua tidak nampak dalam gambar karena dia yang mengambil gambar tersebut.

PERSIAPAN WISUDA


Bergambar bersama beberapa mahasiswa dan kawan dosen di depan Aula UPM dalam rangka persiapan wisuda tanggal 1 Maret 2008. Gambar tersebut saya lakukan karena keberangkatan ke Tripoli, Libya. Dalam gambar nampak Ocied, mahasiswi Falsafah dan Agama, Sdri Wiwid Agustin, dari biro Kepegawaian, Dani, Dida Pak Yusuf Kurnidi dri Program Studi Desain., sebagai kenangan saya meniggalkan kampus UPM.

WARUNG LANGGANAN

Warung sederhana ini merupakan langganan saya menikmati makan siang sejak awal kepindahan UPM ke lokasi sekarang. Biasanya saya ditemani sahabat saya Ibin Syatibi, yang juga meninggalkan UPM dan sekarang menjadi Staf Ahli Menpan Taufik Effrendi. Gambar saya bersama Sdr. H. Semi Sarkuti Hamidi, Lc, direktur dan pemilik PT. Mudatur, travel Umrah dan Haji, dan Bapak Achyar Rusli, satu-satu mahasiswa Falsafah dan Agama yang lulus pada masa Cak Nur masih hidup. Thesis beliau saya edit dan cetak menjadi sebuah buku berjudul "Pajak=Zakat, kajian hermeneutik terhadap ayat-ayat zakat dalam Al-Qur'an".

DI MASJID NABAWI MADINAH

Masjid Nabawi pada waktu senja, selepas shalat Maghrib

DI MASJID QUBA MADINAH


Masjid Quba

DI JABAL NUR MAKKAH

Jabal Nur

BERSIAP UMRAH DARI MADINAH

Bersiap umrah dari Madinah, di Hotel Dallah Thaiba

ZIARAH KE MAKAM EMBAH BUYUT


Ziarah ke Makam Embah Uyut



Poto ini diambil pada Idul fitri 2007. Biasanya kami sekeluarga melaksanakan shalat Iedul Fitri maupun Iedul Adha di Masjid Ar-Rahmah, Jl. Perintis Kemerdekaan Kelapa Gading Komplek AL. Tepatnya dekat rumah mantan Panglima ABRI Laksamana Widodo AS. Asalnya komplek AL tersebut adalah rumah penduduk termasuk rumah embah R.K.H. Mod. Nasir bin R.K.H. Mudatsir. Ketika kawasan tersebut dijadikan komplek AL terjadi kesepakatan bahwa lokasi masjid lama tidak dijual dan merupakan wakaf keluarga embah Nasir. Pada tahun 1997 masjid tersebut dibangun kemlai oleh keluarga embah Nasir dengan uang keluarga dan menjadi sebuah masjid yang megah dan bisa bersaing dengan kemegahan Gereja Toraja tidak jauh dari lokasi.

Dibawah mihrab masjid terdapat makam keluarga yang setiap hari jum'at anak cucu dapat berziarah ke makam lelhur.

KETUA PROGRAM STUDI UPM


Ketua Program Studi yang ada di lingkungan Universitas Paramadina (UPM), dari kiri-kanan, Nanang Widonanto (Kajur Desain), Hary TY Achnan (Kajur TI), Kurniawaty Yusuf (Kajur Ikom), Aviliani (Kajur Manajemen), Asriana S (Kajur HI), Pamugari Widyastuti (Kajur Psikologi), Saya, Nasruddin Latief (Kajur Falsafah & Agama), dan Diki Gita Purnama (Kabiro Akademik). Gambar tersebut diambil pada saat wisuda I dan Dies Natalis UPM di Aula Kampus UPM, Jl. Jend. Gatot Subroto.

FORUM KOMUNIKASI PEDULI PENDIDIKAN


Forum Komunikasi

KPH SAPARDI SAHID HADISARDJONO

KPH Sapardi Sahid Hadisardjono adalah Ketua Forum Komunikasi Paduli Pendidikan SMPN 1 Cikini, Jakarta Pusat dimana aku sebagai Sekretaris Umumnya.

BUNDA


Bunda

MY PERSONAL LIBRARY


Pustaka Pribadi

DI PASAR SENG MAKKAH


Pasar Seng

DI AKADEMIK


ruangan Akademik

MY CAMPUS

Kampus UPM

KAWAN LAMA


Kawan-kawan angkatan pertama ketika UPM masih bertempat di gedung Bidakara, Pancoran.

BERSAMA PROF. DR. FAISAL AFIFF


Prof. Dr. Faisal Afiff

BERSAMA M. FAISAL BADROEN

Pak Faisal adalah mahasiswa S2 angkatan awail ketika Cak Nur menjadi salah seorang dosennya bersama Dr. Alwi Shihab, Kang Jalal, dan lain-lain.


TRASKOM ARTISTIKA

Traskom adalah sebuah perusahaan yang dipimpin oleh sahabat saya Ir. Q.K. Dikara Barcah, MBA, E-Comm.

RIFAI HASAN


Rifai Hasan, adalah

BERSAMA BUDHY MUNAWAR-RACHMAN


Gambar ini kami ambil di Rumah Makan Sunda Kampeong Sangkuriang Cempaka Putih

Senin, Maret 03, 2008

BERSAMA GURU BESAR UPM


Gambar diatas adalah para pimpinan dan Guru Besar universitas Paramadina serta Ketua Program Studi di lingkungan UPM.