Minggu, Agustus 31, 2008

DI RUMAH PAK BEN



Photo diatas diambil di rumah Bapak Benyamin Parwoto, Komplek Patra, Kuningan, Jakarta Selatan ketika saya pamit untuk berangkat ke Tripoli, Libya tgl. 24 April 2008.

DI DEPAN GERBANG KBRI TRIPOLI, LIBYA.


Di depan gerbang KBRI Tripoli, Libya. Saya suka bergambar disitu karena pemandangan depannya yang bebas bisa melihat jauh ke alam semesta Tripoli yang panas menyengat pada musim panas.

BERPHOTO BERSAMA BAPAK DAN IBU DUTA BESAR RI


Setelah setelai pelaksanaan upacara HUT RI ke-63, tgl. 17 Agustus 2008 acara dilanjutkan dengan photo bersama. Photo diatas adalah photo para Lokal Staff pada KBRI Tripoli, Libya bersama Bapak dan Ibu Duta Besar RI untuk Libya, Drs. Sanusi.

MENJELANG RESEPSI DIPLOMATIK HUT RI KE-63



Gambar disebelah adalah podium menjelang Resepsi Diplomatik dalam rangka HUT RI ke-63, yang diselenggarakan di depan Gedung KBRI Tripoli, Libya.

UPACARA HUT RI KE-63 DI KBRI TRIPOLI, LIBYA


Dalam rangka hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-63, pada tgl. 17 Agustus 2008 telah dilaksanakan upacara peringatan HUT tersebut di halaman Kedutaan Besar Republik indonesia (KBRI) Tripoli, Libya. Bertindak sebagai inspektur upacara Duta Besar RI untuk Libya, Drs. Sanusi, komandan upacara Rahwantya Arisusanto, dan saya sendiri sebagai pembaca doa.

BERGAYA DI DEPAN BENTENG TUA, TRPOLI.


Saya sedang berpose dengan sedikit gaya...he..he.. di depan benteng lama kota tua Tripoli, Libya.

Rabu, Agustus 27, 2008

HAUL KE-3 ALLAHYARHAM PROF. DR. NURCHOLISH MADJID

HAUL KE-3
ALLAHYARHAM PROF. DR. NURCHOLISH MADJID ( 17 MARET 1939 - 29 AGUSTUS 2005). SEMOGA ARWAH AL-MAGHFURLAH DITERIMA DISISI OLEH ALLAH DAN SEMUA AMAL BAKTI BELIAU BAGI KEMAJUAN UMAT DAN BANGSA DIKABUL OLEH-NYA.
AMIN..

HEMBUSAN ANGIN POLITIK RELIGIUSITAS KE MAROKO


Baru-baru ini telah diadakan ‘Sarasehan Internasional I Tariqat Masyisyiyah-Syadziliyah (Al-Multaqa’ Al-Alamy Al-Awwal li Al-Tariqah Al-Masyisyiyah Al_Saydziliyah)’ di ibu kota Maroko, Rabat pada tgl. 29 Juli 2008. Sarasehan ini dihadiri oleh lebih dari 70 cendekiawan dan ulama, tokoh pemikir dan para murid sufi dari Maroko, dunia Arab, Eropa dan Amerika di Tangier (Tanjah) dalam kerangka Sarasehan tersebut.

Sarasehan ini merupakan pengakuan pada pemikiran tokoh Sufi besar Maroko Sheikh Maulawi Abdul Salam ben Emmasyisy dan muridnya Abul Hasan Al-Syadzili. Mufti Mesir Prof. Dr. Ali Jum’ah mengatakan peringatakan tokoh Sufi Besar dan Qutb Sheikh Emmasyisy dan muridnya sebagai peristiwa dan pengakuan atas pemikiran kedua tokoh tersebut dalam pemikira Tasawuf di tengah dunia yang tegang dan penuh kekerasan yang berasal dari keangkuhan dan tidak adanya rasa toleransi terhadap yang lain dan ketakukan antara yang satu dengan yang lain. Dia menambahkan, berkat kedua tokoh cedekiawan Sufi Besar dan Qutub ini kita belajar saling mencintai dan mengasihi satu sama lain, hikmah dan ketenangan yang hilang dari dunia modern dan pada waktu dunia iman tercerabut dari akar hati manusia. Apabila manusia modern mengakui dan mau belajar dari kenyataan ini maka kedua waliyullah tersebut telah mencapai makna hakiki terhadap teks dan dapat terkontribusikan ke dalam makna yang sangat mendalam.

DOKTOR KEHORMATAN (HONORIS CAUSA) UNTUK PEMIMPIN LIBYA



Pemimpin Libya, Muammar Gaddafi dalam kunjungan kenegaraan ke Tunisia, pada tgl 5 Agustus 2008 telah diberikan anugerah Doktor kehormatan (HC) oleh Universitas 7 November, Qartoug, Tunisia. Pemberian Dr. HC ini dalam bidang Peradaban Islam berkat kepedulian Pemimpin Libya dalam bidang tersebut dan kepeduliannya dalam bidang politik dan umatnya.

Prof. Dr. Gameel Ben Ibrahim, Rektor Universitas ‘Sabi’ November’ mengatakan bahwa penganugerahan Dr. HC ini diberikan kepada Pemimpin Libya, Muammar Gaddafi sebagai penghargaan atas perjuangan politik dan pemikiran serta perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan; Juga sebagai pengakuan atas berbagai usaha dan perjuangan yang diusahakan, dan bahkan terus diusahakan olehnya dalam pengkhidmatan kepada kepentingan bangsanya, umatnya, benuanya, bahkan untuk kemanusian pada umumnya; dan sebagai pengakuan atas kintribusinya pada pemikiran yang sangat spesifik, baik secara kawasan maupun regional. Maka sesungguhnya Universitas ‘Sabi Nobember’ sangat bangga dan mendapat kehormatan bisa disandingkan dengan Pemimpin Libya dalam penganugerahan Doktor Honoris Causa (Al-Dukrurah al-Fakhriyah) ini. Bahwa hubungan antara Tunisia-Libya adalah hubungan sejarah yang sangat ‘historical’ sifatnya dan klasik dimana kepentingan kedua Negara saling berkelindan bahkan semakin meningkat dalam hubungan kerjasama di bidang ekonomi, maupun gerak transportasi antar kedua Negara sehingga hubungan keduanya mencapai tingkat ideal.

Menteri Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Tunisia, Prof. Dr. Alazhar Bouauni mengatakan bahwa penganugerahan Doktor Honoris Causa Pemimpin Libya oleh Universitas 7 November, Qartaj sebagai pengakuan atas usaha-usaha beliau di bidang persoaan thruth, keadilan, perdamanan, prosperity yang terus menerus diusahakan oleh ‘the Leader’ demi terjadinya dialog antar kebudayaan dan kerjasama peradaban sehingga memperkuat ‘intima’ Arab Afrika kepada bangsa dan Negara dan menambah keterbukaan masyarakat kita terhadap masyarakat lain.

Pemimpin Libya pada lain pihak mengucapkan rasa syukur atas penganugerahan ini semoga menjadi media bagi pengakuan dan pengukuhan kerjasama ilmiah dan akademik antara Universitas Libya dan Tunisia. Gaddafi memaparkan sejumlah persoalan yang sedang dihadapi oleh dunia global saat ini, khususnya dunia Islam dan Arab, termasuk kemajuan yang sangat pesat dalam dunia global dan proses globalisasi yang terus maju semakin pesat. Dia menandaskan mengenai pentingnya diwujudkan persatuan dan kesatuan regional (takattulat iqlimyah) untuk menghadapi tantangan masa depan regional di bawah kebangkrutan yang pasti terjadi di dunia kapitalisme dalam bentuk ‘modern nation-state’, seraya ia mencontohkan pendirian Uni Afrika dan pembentukan pemerintahan federasi Afrika dibawah payung ‘United States of Africa’, sehingga membuat sebuah kekuatan ekonomi dan politik yang menggurita dan dapat menantang globalisasi dan kekuatan ekonomi kapitalisme.

Pemimpin Libya, Muammar Gaddafi telah mendapat puluhan penganugerahan Dr. HC dari berbagai Universitas Dunia dalam berbagai bidang. Dan ‘Universitas 7 November’ telah memberikan beberapa gelar Dr. HC kepada tokoh politik, cendekiawan dan businessman seperti Pangeran Al-Walid bin Talal bin Abdul Aziz dari Saudi pada bulan Mei tahun 2007.

PROF. DR. ABD. RAHMAN BADAWY (4 FEBRUARI 1917 – 25 JULI 2002)


Dilahirkan di desa Syurbash, Dusun Faskur, Propinsi Dimyath, Mesir. Lahir sebagai anak ke-15 dari 21 orang bersaudara, dari ayah seorang tuan tanah Badawy Badawy Mahmoud pada tanggal 4 Februari 1917. Menamatkan sekolah dasarnya di Faskour pada tahun 1929, kemudian lulus sekolah kejuruan di Sekolah Al-Sa’idiyah, Giza, pada tahun 1932; lulus BA pada tahun 1934. Setelah mendapat gelar BA, ia masuk lagi ke Fakultas Sastra, Jurusan Falsafah, Universitas Fuad I – sekarang Cairo University, selama menjadi mahasiswa ia dikirim kuliah ke German dan Austria, setelah kembali ke Mesir ia berhasil mendapat gelar Lc dari Universitas Fuad I pada tahun 1938 dengan nilai Excellent.

Setelah lulus dan arena keunggulannya, ia diangkat menjadi asisten dosen di Universitas dan berusaha untuk mendapatkan gelar Magister, dan berhasil pada tahun 1941. Thesis masternya berjudul, ‘Musykilat al-Maut fi al-Falsafat al-Wujudiyah’ (Problematika Kematian menurut Filsafat Eksistensialisme). Kemudian pada tahun 1944 ia berhasil mempertahankan siding disertasinya yang berjudul, ‘Al-Zaman al-Wujudy’ (Masa Eksistensilaisme). Diantara team penguji antara lain, Prof. Dr. Taha Husein, Amid Adab al-Araby, dimana saat itu beiau mengatakan, pertama kali kita menyaksikan filosof Mesir. Setelah mendapat gelar Doktor Filsafat diangkat sebagai dosen di Jurusa Filsafat pada bulan April 1945, kemudian Professor Madya pada tahun 1949. Pada tahun 1950 Badawy meninggalkan dunia dosen dan mendirikan Jurusan Filsafat, Fakultas Sastra, di Universitas Ibrahim Pasha – sekarang Ain Syam University – kemudian ia diangkata sebagai Professor Emeritus pada bulan Januari 1959.

Badawy bekerja di bidang kebudayaa sebagai Konsul Kebudayaa dan Direktur Utusan Pengiriman Mahasiswa ke Luar Negeri di Bern, Swiss (Maret 1956 – Nopember 1958. Aktifitasnya banyak sekali di Negara Barat maupun di Negara Arab, dimana dia mendirikan Jurusan Filsafat, Fakultas Sastra, Universitas Kuwait, Universitas Tehran, Universitas Tripoli; dan bekerja di beberapa Universitas sebagai Professor Tamu, seperti Libanon, Ma’had al-Dirasat al-Islamiyah, Faklutas Sastra, Sorbonne, Universitas Paris I, Universitas Benghazi, Kulliyat al-Ilahiyat wa al-Ulum al-Islamiyah, Tehran University, Guru Besar Filsafat Modern, Logika, Etika dan Tasawuf di Universitas Kuwait.

Kerya-karyanya

Ditinjau dari trend pemikiran Badawy yang cenderug pada mazhab Eksistensialis dalam filsafat, ia menulis buku mengenai pembelaannya terhadap Nabi Muhammad saw dan Islam. Mengenai hal ini, ia menulis buku, ‘Difa’ an Muhammad saw dhidd Muntaqidihi’, (Pembelaan terhadap Nabi Muhammad saw terhadap para Pengkritiknya); dan buku, ‘Difa’ an Al-Qur’an Dhidd al-Tha’iina fihi’ (Pembelaan terhadap Al-Qur’an terhadap Pe???) dan ditulis dalam bahasa Perancis. Kedua karya ini boleh dikatakan sebagai revolusi pemikirannya termasuk pembelaannya terhadap Nabi Muhammad saw dan Kitab Suci Al-Qur’an. Dia mengomentari hal itu dengan mengatakan bahwa dirinya bergelimang dalam pemikiran dalam dua sisi. Sisi Filsafat Umum, termasuk filsafat Eksistensialisme; dan pemikiran Pemkiran Islam. Dan saya tidak menzalimi antara yang satu dengan yang lain (antara filsafat Eksistensilalisme dengan pemikiran Islam). Dalam filsafat Eksistensialisme mempunyai dua belahan. Belahan atheis dan belahan imani. Ia berada pada belahan eksistensialisme imani, bukan atheism. Dia tenggelam dalam kajian Islam dan situasi dan keadaan umat Islam, meneliti karya-karya para Orientalis yang menulis tentang Islam, dan melakukan bantahan terhadap padangan mereka yang menyimpang dari ajaran Islam, dan membongar kesesatan mereka.

Prof. Abd. Rahman merupakan seorang pemikir yang sangat produkti menelorkan karya-karya tulis. Karyanya dapat dikelompokan ke dalam beberapa kategori, seperti filsafat, sastra, pemikiran Islam, Orientalisme, Hellenisme, dan lain-lain. Semua karya dibidang tersebut lebh dari 50 buah karya, belum termasuk artikel yang ditulis dalam berbagai bahasa, seperti bahasa Arab, Inggris, Perancis, Spanyol dan Jerman. Saya termasuk yang banyak mengakses karya-karya beliau untuk mengajar di Jurusan Falsah dan Agama, Universitas Paramadina dan hamper lengkap koleksi pustaka saya mengenai karya tulisnya. Diantara buku tersebut antara lain, ‘Mazahib Islamiyyin’, dua jilid besar yang memaparkan mengenai mzhab pemikiran dan teologi Islam, dari Mu’tazilah, Asy’ariyah dan Syiah. Buku yang sangat luas dan mendalam penelitiannya dengan memberikan aspek historis dan pemikiran dari mazhab-mazahab filsafat dan teologi yang dibahasnya. Buku lainnya lagi adalah, ‘Tarikh al-Ilhad fi Al-Islam’ (Sejarah atheisme dalam Islam) yang memasukkan tokohnya, antara lain, Al-Rawandy dan Ibn Al-Haytsam sebagai atheisme. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia; dan buku lain adalah, ‘Al-Turats Al-Yunani fi al-Hadharat Al-Islamiyah’ (Warisan Yunani dalam Peradaban Islam), dan banyak lagi buku-bukunya mengenai tasawuf, dan lain sebagainya. Karya-karya Badawy mejadi rujukan dan referensi penting yang diajarkan di Universitas Sorbonne, Paris.

TEKA-TEKI NASIB PESAWAT SUDAN YANG DIBAJAK DI AIRPORT KUFRAH. PARA PEMBAJAK MENOLAK PERUDINGAN LANGSUNG DENGAN PIHAK LIBYA

Libya al-Youm, Rabu, 27 Agustus 2008
Al-Kufrah

Para pembajak pesawat Sudan yang mendarat Selasa kemarin di airport Kufrah, Libya menolak para penumpangnya keluar dari pesawat walaupun sudah 5 jam mereka disandera di dalam pesawat. Direktur Airport Kufrah, Khalid Sasiyah mengatakan kepada Kantor Berita Libya (Jana) Selasa malam bahwa perundingan sedang berlangsung dengan para pembajak melalui Pilot pesawat sejak 1.19 menit lalu menurut waktu setempat Selasa kemarin agar para penumpang diperbolehkan meninggalkan pesawat sehingga dapat dilakukan bantuan kemanusiaan kepada mereka. Dia mengatakan bahwa para pembajak memberitahukan melalui pilot penolakan mereka para penumpang keluar dari pesawat, bahkan membuka pintu pun tidak diperbolehkan sejak pesawat tersebut mendarat.

Pilot pesawat menyampaikan bahwa jumlah pembajak kurang lebih 10 orang, tapi kemudian dia meralat pernyataannya yersebut dan mengatakan bahwa jumlah tersebut lebih dari 10 orang. Mereka berasal Front Pembebasan Sudan, Faksi Abdul Wahid Nur yang menetap di Paris. Pilot pun menyampaikan kepada Direktur Airport Kufrah bahwa mereka menolak diajak dialog dan tuntutan mereka adalah hanya meminta penambahan bahan bakar untuk terbang ke Paris. Mereka meminta peta penerbangan ke Paris. Mereka juga menolak mengizinkan penumpang yang pingsan meninggalkan pesawat.

Menurut para wartawan bahwa airport Kufrah siap mengambil berbagai langkah penyelamatan untuk membantu kemanusiaan penumpang, termasuk menyediakan kendaraan ambulance secara lengkap dan hansip yang sudah berada di airport sejak pesawat mendarat. Laporan tersebut sesuai dengan pernyataan Muhammad al-Billah Othman, Konsul Sudan di Kufrah bahwa para pembajak pesawat meminta pengisian bahan bakar dan diperbolehkan terbang ke Paris.

Pesawat yang dibajak jenis Boeing 337-200 dan mengangkut 84 penumpang dan 8 petugas dari Darfur menuju Khartum. Diantara penumpangnya terdapat pejabat pemerintah dari Gerakan Pembebasan Sudan, pimpinan Mini Arko, penasehat Presiden Sudan. Penguasa Darfur Selatan, Ali Mahmud mengatakan bahwa presiden Omar Bashir akan meminta kepada Pemimpin Libya, Muammar Gaddafi untuk melakukan pengambilan langkah mengenai keselamatan penumpang. Diberitakan bahwa pembajak menolak untuk mengadakan perundingan dengan utusan pemerintah Libya.

Pihak Front membantah bahwa Front Pembebasan Sudan, Faksi Abdul Wahid Nur terlibat dalam pembajakan tersebut. Kantor Berita Libya mengatakan bahwa sejumlah petugas bergerak ke airport Kufrah untuk memantau situasi dan memberikan kemudahan kemanusiaan bagi penumpang pesawat tersebut.

Pihak Sudan Aviation Sudan mengatakan bahwa pesawat naas tersebut take off setengah jam dibajak dan pembajak meminta merubah arah ke Cairo kemudian ke Kufrah pada Selasa sore waktu Sudan, dengan flight no. 611 menuju Khartum dan didalamnya terdapat 87 orang penumpang dengan petugas 8 orang. Pesawat tersebut mendarat di airport Kufrah pad jam 7.40 waktu Sudan. Nampaknya pembajak melakukan hal ini untuk mengambil perhatian dunia apa yang sedang terjadi di Darfur.

Pihak Sudan mengatakan bahwa musibah pesawat yang sering terjadi di Sudan sebagai akibat dari embargo yang diterapkan oleh AS terhadap Sudan bagi suku cadang pesawat sipil.



PEMBEBASAN SEMUA PENUMPANG PESAWAT SUDAN YANG DIBAJAK

Al-Arabonline, 27 Agustus 2008

Tripoli, Arab on line

Berita yang dilansir oleh Kantor Aviation Libya Rabu ini (27/8/2008) menjelaskan bahwa semua penumpang pesawat Sudan yang dibajak di airport Kufrah Selasa kemarin telah dibebaskan. Saat ini sedang dilakukan perundingan dengan pembajak dan masih berjalan untuk membebaskan para petugas pesawat (pilot dll). Kantor tersebut juga menjelaskan bahwa jumlah para pembajak berjumlah 2 orang, berasal dari Tentara Pembebasan Sudan, Faksi Abdul Wahid Nur. Saat ini kedua pembajak sedang dilobby untuk menyerahkan diri.

Pihak Libya telah mengambil lagkah-langkah bantuan kemanusiaan kepada para penumpang jika pihak pembajak menolak perundingan apapun dan bersikeras meminta bahan bakar untuk terbang ke Paris.
Pada Rabu sore Libya berhasil berhasil membebaskan semua sndera dan meloby para penyandera menyerahkan diri.

Selasa, Agustus 26, 2008

PERINGATAN PENGUSIRAN TENTARA AS DARI LIBYA

Hari Rabu, 11 Juni 2008 (12 Shaif 1376 wr) tepat 38 tahun lalu, atau 11 Juni 1970 merupakan hari bersejarah bagi rakyat libya. Pada hari tersebut rakyat Libya dengan gagah berani berhasil mengusir tentara Amerika dari wilayah negaranya. Pengusiran tersebut bukan hanya sebatas tentara AS tapi juga semua kepentingan militer Amerika Serikat termasuk pangkalan militernya. Peringatan hari pengusiran tersebut dilaksanakan di Pangkalan Udara militer di Maitiga, Tripoli (Halim Perdanakusumanya Tripoli).

Pemimpin Libya, Kol. Muammar Gaddafi dalam pidato yang cukup panjang dan tanpa teks mengilas balik sejarah perjuangan bangsa Libya melakukan perjuangan mengusir tentara penjajah Amerika Serikat, dan juga tentara Inggris dan Italia yang berbaju sipil. Bahkan mengulas masalah-masalah perkembangan politik ’terkini’ (al-saa’ah) yang menjadi perhatian dunia.

Memang bisa dibayangkan penduduk Libya yang hanya beberapa juta saja bisa mengusir tentara terkuat di dunia. Bukan karena hal lain, karena AS kehilangan muka di dunia karena diusir oleh sebuah negara yang penduduknya sedikit. Tentunya banyak hal lain yang membuatnya marah, walau banyak dari tuduhan bohong dan hanya rekayasa. Seperti yang terjadi di Irak, semua tuduhan yang ditimpakan pada Saddam Husen semuanya tidak terbukti. AS hanya memang ingin menguasai kekayaan minyak Irak yang merupakan cadangan minyak terbesar dunia.


Pengusiran ini merupakan bukti keberanian bangsa libya. Walaupun sedikit jumlah penduduknya tapi revolusioner dan berani melawan musuh yang lebih besar dan lengkap persenjataannya. Pada saat sebelum pengusiran AS mempunyai lima buah pangkalan militer di wilayah Libya. Pangkalan militer ini dipergunakan untuk menghantam tentara negara-negara Arab lainnya seperti perang segi tiga Mesir tahun 1956 pada masa presiden Gamal Abdul Nasser. Pangkalan militer tersebut juga dipergunakan untuk melatih para teroris untuk melakukan aksi terorisme di berbagai belahan dunia. Kemenangan pengusiran ini terjadi hanya beberapa bulan setelah Kol. Gaddafi berhasil melakukan revolusi al-Fateh al-Azim pada tanggal 1 Al-Fateh (September 1969) ketika menjabat sebagai opsir merdeka yang berpangkat Kapten dan berusia 27 tahun. Kemudian pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel.



DI DEPAN TOKO SOUVENIR OLD CHITADEL, TRIPOLI

Di depan toko souvenir khas Libya yang mencerminkan kehidupan padang pasir dan nomadis.

DI DEPAN BENTENG LAMA TRIPOLI, LIBYA



Didepan Old Chitadel, Kota Tripoli, Libya (23 Agustus 2008). Nampak dalam gambar bangunan tua yang merupakan tembok pertahanan (benteng) yang berada di tepi laut kota Tripoli, yang sekarang menjadi pusat kota dan objek wisata. Istilah di Tripoli dikenal dengan 'Madinah'. Tripoli merupakan kota yang tidak terlalu besar utuk ukuran sebuah ibu kota. Tempat rekreasi juga tidak banyak kecuali berenang di pantai yang suka maupun mancing bagi yang hobby. Satu-satunya tempat tujuan yah madinah tersebut. Kalau di Jeddah samam dengan 'Balad'. Biasanya waktu kita banyak habiskan dengan melihat barang-barang di toko, walau tidak beli, karena harganya bila dirupiahkan cukup mahal. Paling hanya maan diresto Turki atau Mesir, bahkan makan makanan khas Libya.

Kota lama Tripoli ini juga merupakan objek wisata bagi para wisatawan manca negara. Di dalam kota terdapat pasar tradisional dan barang-barang lainnya, juga terdapat toko-toko emas, souvenir dsb. Benteng Tua ini merupakan daerah pertahanan dari serangan luar terutama menggunakan pasukan kapal laut. Maklum pad zaman itu belum ditemukan kapal tempur (udara). Di dalam bangunan Chitadel terdapat museum yang mengisahkan perjalanan kota Tripoli sejak zaman kuno, Yunani, Romawi, Islam dan modern.

Tripoli sendiri berasal dari Tripolitania atau tiga kota. Pertama Kota Leptis Magna (ceritanya nanti khusus), Kedua kota Oui (Nama kuna Tripoli) dan Misurata. Ketga kota pesisir ini merupakan kota penting pada zaman Romawi. Peninggalannya masih utuh dan ada hingga sekarang yang dikenal sebagai Leptis Magna (Leptis Besar) utuk membedakan dengan Leptis Minor yang terdapat di Tunisia.