Senin, Februari 18, 2008

Bersama Guru Bangsa


Allahyarham Al-Maghfurlah Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur), selama ini senantiasa salah difahami oleh sebagian kelompok umat Islam Indonesia, karena ijtihad-ijtihad beliau yang berisi dan bernas. Bagi orang yang hanya tahu beliau dari 'jauh', tidak terlibat dalam keseharian beliau, akan termakan oleh berita-berita miring tentang beliau. Hal ini saya alami ketika dimana saja saya berada dan bahkan dilingkungan kawan lama saya sesama alumni mahsiswa Mesir. Pertanyaan dan pernyataan mereka tidak berbeda dengan pertanyaan dan pernyataan kaum awam tentang Cak Nur.
Pengalaman saya pribadi tentang beliau, ketika saya masih berada di Timur Tengah tidak berbeda dengan apa yang dirasakan oleh kawan-kawan saya tadi. Tapi setelah saya berada dan bergaul langsung dengan beliau, bahkan pernah umrah bersama beliau, kesan yang selama ini dipublikasikan oleh media yang anti beliau sama sekali sirna. Saya menemukan sosok yang begitu tawadhu dan rendah hati, dengan komitmen moralitas yang sangat tinggi. Komitmen ini merupakan cerminan pemahaman beliau tentang inti ajaran agama Islam yang bersumber Wahyu (Al-Qur'an) dan Sunnah Rasulullah.
Selama mengikuti beliau baik dalam setiap kuliah S2 di Paramadina, moment-moment tertentu selalu muncul 'saripati' Al-Qur'an yang beliau jabarkan dan ijtihadkan, sehingga bagi pendengar yang menguasai pemahaman studi Islam secara kuat - misalnya alumni Universitas Al-Azhar Cairo - akan kagum dengan ketajaman ijtihad beliau.
Oleh karena itu sosok Cak Nur boleh dikatakan sebagai 'al-muftara alayhi', yang disalahfahami selama ini, karena hanya 'kata'nya. Bukan dari pengalaman pribadi bergaul dengan beliau. Saya banyak mengenal dan tahu para Kiyahi dan Ustaz di Jakarta dan tapi terus terang saya katakan tidak satupun yang komitmen moralitasnya dan ketawadhuannya menyamai beliau.

Tidak ada komentar: