Senin, Januari 26, 2009

PRA SERANGAN BRUTAL ISRAEL KE JALUR GAZA

PRA SERANGAN BRUTAL ISRAEL KE JALUR GAZA

Serangan brutal Israel ke Jalur Gaza yang dilakukan pada tgl. 27 Desember 2008 hingga 20 Januari 2009, didahului oleh kunjungan Menlu Israel Tzipi Livni dan bertemu dengan koleganya dari Mesir, Ahmed Abou Al-Geith. Koran internasional Al-Arab yang terbit dari London, edisi Jum’at-Sabtu, 26-27 Desember 2008 memberitakan dalam headlinenya sbb: ‘Levni mencari lampu hijau dri Mesir menunggu waktu yang tepat: Levni mengancam dari Kairo untuk melumat Hamas.

Berikut isi beritanya:

Menlu Israel, Tzipi Livni keluar dari pertemuannya dengan Presiden Mesir, Hosni Mubarak kemarin (Kamis, 25 Desember 2008) untuk mengumumkan keinginan bener-bener dan keseriusan Israel untuk melakukan serangan militer guna menghentikan ‘kekuasaan’ Gerakan Hamas terhadap Jalur Gaza Palestina, dan memberitahukan para wartawan bahwasanya kail telah ditebar…dan situasi akan berubah.

Livni mengancam sikap permusuhannya tersebut setelah bertemu dengan beberapa pejabat Mesir, antara lain Presiden Hosni Mubarak. Sumber diplomatik menyatakan bahwasanya Livni telah memberitahukan pejabat Mesir mengenai strategi serangan kilat ke Jalur Gaza. Dia menandaskan dalam konferensi pers selama 90 menit bersama koleganya dari Mesir, Ahmed Abou Al-Geith bahwasanya situasi di Gaza sebagai duri bagi pendirian negara palestina. Dia mengikuti perkembangan bahwasanya Hamas telah menetapkan tujuan dan target Israel dan hal ini sesuatu yang harus dihentkan dan ini akan kami lakukannya dengan serius’.

Dalam konferensi pers Abou Al-Gheith tidak dapat mengatakan apa-apa kecuali menekankan dan konfirmasi atas saran pemerintah Mesir kepada kedua belah pihak (Israel dan Palestina) untuk saling menahan diri dan memudahkan jala mencapai kepada tahdi’ah (gencatan senjata) baru. Abou Al-Gheit mengatakan bahwa Mesir tidak akan berhenti upayanya dan berusaha untuk menjadi penengah, selama kedua belah pihak berkeinginan yang demikian tersebut. Akan tetapi Mesir tidak dapat meyakinkan dan memaksa keduanya untuk kembali kepada tahdiah selama adanya ketegangan yang semakin memuncak.

Presiden Mubarak meminta kepada Livni untuk harus menjauh dari cara-cara penggacangan secara maasal rakyat Palestina; sebagaimana para korps diplomatik juga mengingatkan meminta Mesir agar Israel memberikan kemudahan masuknya bantuan yang dikendalikan oleh istri Presiden Mesir, Susan Mubarak yang selama ini masih terbengkalai di pintu masuk Rafah, Mesir karena tidak diizinkan Israel.

Pernyataan Livni tersebut menimbulkan ketidanyamanan di dalam lingkungan politikus Mesir dan menganggapnya sebagai penghinaan besar bagi Mesir sebagai ibukota dunia Arab terbesar, seraya menjeleskan dan menunjuk bahwa ancaman Livni yang diucapkan di Mesir sebagai skap permusuhan yang sungguh-sungguh yang diucapkan baru-baru ini sebagai ancaman Tel Aviv terhadap penduduk Jalur Gaza dimana mereka telah kelaparan akibat blokade yang dikenakan selama 2 tahun lalu. Hubungan mesra Mesir-Israel tidak dapat memaksa negara zionisme tersebut untuk mencabut blokade atau memperbolehkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, pada saat dimana Organisasi Arab dan Islam di Mesir menuduh pemerintah Mesir telah ikut terlibat dan berkontribusi dalam blokade rakyat Palestina di Jalur Gaza.

Ismail Al-Asyqar, Ketua Kelompok Parlemen Hamas dalam pernyataan pers kemarin menyatakan bahwa kunjungan Livni ke Mesir dianggap sebagai premintaan lampu hijau dari Mesir untuk melaksanaan operasi militer secara besar-besaran di Jalaur Gaza. Asyqar megancam bahwa permusushan Israel terhdapat Gaza akan mengembalikan ‘pendudukan’ kepada masa dimana perjuangan menjadi syahid akan kembali menumahkan darah dan tidak akan cukup dengan rudal saja.

Laporan pers Israel mengatakan bahwa operasi militer akan dimulai menuggu cuaca bagus disamping situasi lain – laporan tersebut tidak menyebutkan lebih rinci alasan lain – dan mengisyaratkan bahwa serangan udara akan menjadi tumpuan terbesar dalam serangan brutal Israel nantinya.

Menteri Perang Israel, Yahudi (Ehud) Barak mengatakan pada hari Rabu sore (24/12/2008) bahwa Hamas akan membayar harga yang sangat mahal atas serangan peluru kendalinya yang diluncurkan kepada occupied land Israel. Dia menambahkan bahwa Israel tidak akan membiarkan kelakukan ini terus menerus. Barak menambahkan bahwasanya dia telah mengeluarkan perintah kepada tentara Israel untuk bersiap-siap membalas serangan rudal Hamas tersebut. Pada waktu itu, Sumber-sumber Palestina menyebutkan bahwa unsur Polisi Palestina telah memindahkan sebagian kantor dan pos keamanan mereka di Jalur Gaza mewanti-wanti terhadap serangan Israel; pada saat sumber lain mengungkapkan bahwa tentara Israel meminta kepada pihak Palestina (Fattah) menarik pasukannya dari jalan-jalan di Jalur Gaza untuk melaksanakan serangan militer Israel tapi keterangan tersebut tidak menambahkan penjelasannya.

(Surat kabar internasional ‘Al-Arab’, Lodon, edisi, Jumat-Sabtu, 26-27 Desember 2008).

Tidak ada komentar: